Selasa, 29 April 2014

Amplop

http://www.daeindologistics.com/ImageArtikel/Bolehkah%20Wartawan%20Terima%20Amplop.jpg
Akhir-akhir ini, bu Kusnadi paling senang melihat amplop. sebab amplop yang dibawa pulang suaminya selalu identik dengan rezeki. Berkat amplop, kasur yang keras bisa diganti dengan yang empuk. Berkat amplop pula alat-alat dapur jadi lengkap dan bermerk. Masih karena amplop, bu Kus panggilan akrab bu Kusnadi sekarang tidak minder lagi bila kumpul dengan rekan-rekan arisannya sekompleks. Ya, syukur kepada amplop lah !.

Seingatnya, pak Kus sering membawa pulang amplop semenjak diangkat jadi kepala sekolah. Sebelumnya, hampir lima belass tahun jabatan suami tersayangnya itu hanya sebagai guru biasa, mengajar bahasa Inggris di SMA itu. Amplop yang dibawa pulang adalah amplop gaji bulanan semata. Penghasilan sampingan dari memberi les, Itu pun jumlahnya tidak banyak. Tapi sejak jadi kepala sekolah, ada saja para orang tua murid yang "Bermurah Hati" memberi amplop. Tetapi umumnya selalu di embel-embeli dengan pesan: Tolong anak saya diperhatikan ya, pak !

"Bu, apa Bapak tidak takut di PHK ? siapa tahu ada yang lapor pada pemilik yayasan," ujar Jodi, anak tunggal Bu Kus yang sedang di rumah karena libur semesteran. Ia kuliah di Jawa Tengah di Fakultas Kedokteran sebuah PTS bergengsi. Tubuhnya tinggi dan kurus, berkaca minus dan berpenampilan low profile. 

"Bapakmu tidak bodoh, Jod." Sahut Bu Kus sambil lalu.
"Hanya dua atau tiga guru yang tahu. Mereka tidak mungkin membocorkan rahasia karena ikut makan hasilnya."
"KKN ?"
"Apa pun sebutanmu, yang penting amplop!"

Bu kus jadi kurang berkosentrasi membaca. Jodi bawel amat pagi ini. Main kritik lagi. Tidak tahukan bahwa biaya kuliahnya kini telah memeras orang tua?

"Perilaku semaca itu nggak baik, bu Melanggar ajaran Tuhan . . . "
"Cukup, Anak Baru Gede !" penggal Bu Kus tersinggung.
"Kau memang pintar berteori tapi kenyataan hidup ? Hanya seujung kuku yang kau tahu !"
"Lo, Kok ibu bicaranya begitu ?"
"Kau sendiri ngomong seenak perutmu. Sekarang dengar, ya. Ibu akan jelaskan. . . ."Bu Kus mengatur napas sebentar," Uang bulananmu saja menghasilkan separo gaji murni bapakmu. Sisanya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup kita sehari-hari. Untuk belanja, bayar tagihan listrik, telepon, air. . . tanpa amplop-amplop itu kita bisa apa? Kepala ibu bisa pecah kalau tidak ada mereka!"

Bu Kus membanting majalahnya. Ditinggalkannya Jodi sendirian di ruang tamu. Mending ke pasar, belanja untuk hari ini, pikirnya menghibur diri.
Amplop datang lagi. Dari wali murid kelas 2, minta anaknya dicarikan guru les. Nilai raport semester pertamanya amat kurang. Pak kus dan ibu menyambutnya dengan ramah. Jodi tak berani adu argumen lagi. Biaya kuliahnya memang tidak sedikit minta orang tua hidup sederhana juga sia-sia. Malah kena semprot bundanya seperti yang sudah-sudah. Ia hanya punya tekad teguh ; Belajar dengan tekun dan bersungguh-sungguh agar cepat lulus. Cepat jadi dokter yang hebat lagi jujur tak seperti bapaknya yang doyan suap.

Seorang pengusaha rotan berani memberi cek mana kala anak sulungnya terancam dikeluarkan dari sekolah. Anak itu kedapatan hamil oleh petugas UKS. Peraturan SMA itu sudah jelas. Jika selama masa studi ada yang "Kebobolan", siswa tersebut harus mengundurkan diri demi menjaga nama baik sekolah dan seluruh komponennya.

"Nama baik sekolah ?" bantah Pak Kus, ketika diadakan rapat guru, Membicarakan anak itu. "Mana yang lebih penting, dua nyawa melayang sekaligus, atau nama baik sekolah yang bisa diupayakan dengan banyak cara ?" Soalnya anak itu mengancam bunuh diri bila dikeluarkan dari sekolah sebelum mengikuti UAN.
"Lagipula, anak itu juga telah dinikahkan !" Terdengar dukungan dari antek-antek Pak Kus, "Jadi statusnya jelas, yaitu ia kini sebagai seorang istri." Jelasnya lagi.
"Saya setuju anak itu diberi kesempatan," tambah kroni Pak Kus yang lain, "UAN tinggal dua minggu lagi. Kandungannya  pasti belum nampak besar. Kita pertimbangkan sisi manusiawinya saja."

Debat berhasil dimenangkan kubu Pak Kus. Anak pengusaha rotan yang salah gaul itu tak jadi dikeluarkan. Ia diizinkan mengikuti UAN. 

Rupanya si pengusa rotan keranjingan main amplop. Beberapa waktu kemudian ia datang lagi, mintap pada pak Kus agar anak bungsunya dijadikan juara pertama untuk kenaikan kelas nanti.
"Bisa kan, Pak Kus ? orang semester kemarin saja anak saya sudah rangking dua. Tentu bukan hal yang sulit bapak untuk menjadikannya rangking pertama."
"Anak Bapak bernama Astuti . . ." dahi Pak Kus berkerut !
"Ya benar !" sambut pengusaha rotan antusias. "Astuti Setyorini Nawangsih, Kelas 2A Nomor absen 19. Pak kus menarik napas. "Ya bisa saja," katanya menjajikan "Itu bisa diatur". Di benak pak Kus sudah dirancang satu rencana. Permainan nilai bahasa inggris. Anak itu, yang bernama Astuti Setyorini Nawangsih, harus diberi nilai sembilan sedangkan rivalnya yang bernama Pertiwi cukup diberi nilai enam. Ya tinggal menghubungi si Karyo saja.

"Oke Pak! kalau begitu saya permisi. Dan ini. . . . " Pengusaha rotan menyerahkan amplop sebelum pergi "Buat jalan-jalan ke luar negeri sama Ibu"
Pak kus menahan napas. "Jalan-jalan keluar negeri ? Siapa tolak?"

Pak karyo adalah tangan kanan pak kus yang cepat tanggap dengan penejelasan bosnya. Sebulan  sebelum kenaikan kelas kelas, ia begitu sensitif memberi ulangan pada anak-anak baik lisan maupun tulisan. Jika lisan astuti diberi soal yang mudah-mudah. Sebaliknya, pertiwi diberi soal yang maha sulit sehingga tak mampu menjawab dengan benar.

Hari yang ditunggu telah tiba. Skenario mereka berjalan mulus. Astuti berhasil menduduki peringkat pertama sedangkan pertiwi peringkat kedua. Sorak sorai buat Pak kus dan kawan kawan, tangis duka bagi pertiwi yang mengandalkan beasiswa untuk kelangsungan studinya.

"Tenang wik. Aku akan melakukan sesuatu untuk menolongmu," janji Astuti pada dirinya sendiri.

Keesokan harinya di meja makan, Astuti protes kepada papanya. "Kenapa papa menyuap pak kus? Jangan dikira astuti senang dengan gelar konyol ini. Papa ngerti nggak? juara pertama tapi hasil rekayasa. . . .  apa istimewanya?"
"Kau ini bicara apa?" tanggap pengusaha rotan dengan nada datar. "Pagi-pagi sudah ngomong ngawur. Ada apa sih?"
"Maksud kamu apa sih?"
"Ah, papa jangan bersikap begitu deh, pura-pura nggak ngerti. Teman-teman Astuti juga tahu. Pak karyo tidak adil memberi nilai bahasa inggris pada pertiwi. Dan astuti yakin banget, siapa guru matre itu. Dia ajudannya pak kus, kan? dan pak kus melakukannya atas amplop dari papa?!"

Pengusaha rotan itu berhenti mengunyah roti tawar di mulutnya. Tajam sekali analisis anak ini. Pintar seperti aku dan baik serta jujur seperti almarhum mamanya. Tidak seperti kakanya yang bebal dan kurang didikan itu!

"Astuti malu sama teman-teman, Pa"
"Ah yang penting hitam diatas putih, kaulah juaranya"
"Walaupun hasil main curang?"
"Hasil main uang, sayang . . ."
Gantian Astuti yang berhenti mengunyah
"Papa. Apa maksudnya?"
"Di dunia ini, uanglah yang berkuasa," jelas pengusaha rotan "Kehormatan, kedudukan, pangkat. . . . semuanya bisa diatur dengan uang!"
Astuti menggeleng. "Nggak ah! Astuti nggak setuju sama teori papa. yang jelas, kita sudah merugikan pertiwi. Kasihan dia. Beasiswa itu amat berarti baginya"
"Prestasimu juga sangat berarti bagi papa." Pengusaha rotan tak mau mengalah. "Setelah perbuatan kakakmu mencoreng muka papa, biarlah kamu yang jadi penyeimbangnya. Mengerti ?"
"Tapi, pa. . . ."
"Sudah, jangan debat omongan papa lagi! papa mau berangkat ke kantor." Pengusaha rotan meninggalkan meja makan setelah mencium sekilas kening putri kesayangannya itu. Sedangkan Astuti meratap pelan," Mama. . . . andai saja penyakit laknat itu tidak merenggut nyawa mama. . . . keluarga tak akan begini jadinya."

Untuk kesekian kalinya pak kus menyerahkan amplop pada bu Kus. kening, wanita bertubuh semampai itu tampak berlipat melihat amplop ada tulisannya. "O, undangan makan malam," ujarnya setelah membaca secarik kertas dari dalam amplop itu. " Dari pemilik yayasan . . . pukul tujuh tepat. Wah, rumahnya di kawasan elit ini!

Hanya helaan napas yang terdengar. Berat dan panjang. Pak Kus gelisah sejak tadi. Perasaannya campur aduk. jangan- jangan pemilik yayasan tahu kalau dirinya suka menerima amplop dari orang tua murid. Jangan-jangan pemilik yayasan akan menegurnya, mencopot jabatannya. . . bahkan tak mustahil memecatnya ! sebab orang nomor satu di sekolah terkenal tegas, disiplin, dan mengagungkan kejujuran dalam hidupnya. Walaupun kehadiran sosoknya di sekolah amat jaran, hal ini bukanlah rahasia lagi. Tapi soal amplop, informasinya dari siapa? Bukankah baru dua hari yang lalu beliau kembali dari jepang ? Siapakah yang berani mengganggunya?

"Pak, dari tadi ditanya kok diam saja?"
 "Saya lagi mikir, bu. untuk apa pemilik yayasan mengundang kita malam?"
"Ya jelas untuk ramah tamah, dong ! bukankah beliau selama ini nyaris tak pernah muncul di sekolah ? waktu bapak diangkat jadi Kepala Sekolah saja, beliau hanya sempat muncul seperempat jam lalu terbang kembali ke tokyo. Benar, kan?"
Pak kus mengangguk-angguk. Kata-kata bu kus sedikit menenteramkan hatinya.

Sambutan pemilik yayasan dan istri amat melegakan hati pak kus dan ibu. Ramah dan bersahabat. Selama makan malam berlangsung, beliau juga tidak menyinggung-nyinggung soal amplop. So, everything is fine ! sorak pak kus dalam hati.

Selesai makan, pemilik yayasan mengajak santai di ruang tamu. Bu kus membantu istri pemilik yayasan membereskan meja makan. Kebetulan pembantu sedang tidak ada. menurut istri pemilik yayasan, asih pulang ke desa karena ibunya sakit keras. Kanti minta izin pulang karena hendak menghadiri pesta perkawinan adiknya yang paling kecil. Sedangkan sayem diberhentikan karena tidak jujur, mengorup uang belanja selama ditinggal ke luar negeri. "Jadi maaf ya, Bu Kusnadi. kita harus repot begini," ujar istri pemilik yayasan dengan tutur katanya yang lembut sopan dan tenang.

Di ruang tamu, Pak kus terlibat basa basi dengan pemilik Yayasan. Ia menolak ketika ditawari rokok. "Maaf, pak. Nyuwun sewu, saya tidak merokok."
Pemilik Yayasan mengganguk dan tersenyum. "Salah satu kelemahan saya adalah mentaati tata cara hidup sehat." kata beliau jujur.
Sebaris asap melayang di udara. Dalam hati pak kus sempat mengejek. Ah, cuma asap yang tidak beraturan. Saya bisa membentuk asap jadi barisan lingkaran yang spektakuler !
Hening sejenak.

"Pak kus punya siswi yang bernama Astuti?"
Jantung pak kus nyaris copot mendengar pertanyaan pemilik Yayasan yang terdengar begitu tiba-tiba. "As. . .titi, Pak?" ucapannya tak lancar.
"Ya, Astuti Setyorini Nawangsih," Pemilik yayasan memperjelas kata katanya.

Pak kus jadi begitu sibuk mengatur detak jantungnya. Tak satu pun ucapan yang keluar dari bibirnya yang gemetaran. Mengapa dia menanyakan Astuti ? Apa hubungannya dengan anak Pengusaha Rotan itu ?
"Dia anak bungsu adi saya, pengusaha rotan yang konyol itu," Kata pemilik yayasan, seolah tahu apa yang ada dipikiran lawan bicaranya. "Astuti mengadu pada saya, Papanya gemar kirim amplop ke sekolah kita !"

Pak kus semakin terpuruk. Jangankan berusaha bela diri, sekedar berkelit pun tak bisa. Rupanya kesempatan itu digunakan pemilik yayasan untuk menuntaskan apa yang hendak disampaikan sejak kemarin.
"Sekolah itu saya dirikan dengan tujuan yang amat jelas, mencetak generasi penerus bangsa yang cerdas, berbudi, dan cinta tanah air. Generasi penerus bangsa yang tangguh. Berani benar adik saya itu main sogok ! ketika saya damprat, ia mengejek saya, salah sendiri tidak memiliki anak buah yang jujur. Saya malu, Pak kus. Rupanya anda telah terkenal gampang menerima suap!"

Hanya terdengar tarikan dan hembusan napas.
Bu kus dan istri pemilik yayasan muncul untuk bergabung.
"Mari kita pulang, Pak !" ajak bu kus tanpa memperhatikan suasana yang mencekam. "Nanti kemalaman." dalam benak bu kus tersusun rencana muluk. Ingin punya cincin berlian seperti yang dipakai istri pemilik yayasan. Ruang olahraga, dan segudang keinginan lainnya yang di ilhami oleh kepunyaan istri pemilik Yayasan.
"Saya. . . . saya minta maaf, pak?" kata Pak Kus setelah mengumpulkan segenap kekuatannya. Suaranya lirih nyaris tak terdengar. Pemilik yayasan hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Lalu katanya pada sang istri, "Bu tolong ambilkan amplop yang tadi sudah saya siapkan."
"Di laci meja kerja bapak?"
"Ya, benar."
"Baik pak, tunggu sebentar!"

Bu kus memandang pak kus. amplop berkat lagi ini. Berlian, alat olahraga. . .tapi kenapa wajah suaminya itu sangat pucat ?
"Ini buat pak kus," ujar pemilik yayasan setelah menerima amplop coklat dari tangan istrinya. Di sodorkannya di meja sambil mengatakan," Tahun depan, saya ingin pertiwilah yang jadi juara pertama, seperti seharusnya. Kasihan anak buruh pabrik yang pintar itu."

Bu kus segera merebut amplop ketika mereka telah berada dalam mobil. "Lucu sekali," katanya riang bercampur heran. "Pemilik yayasan ikutan main amplop supaya seorang anak dijadikan juara pertama. Dunia sudah gila rupanya.

Pak kus mengerem mobil secara mendadak. Nyaris menabrak anak kecil yang belajar bersepeda di ujung kompleks. Pikirannya begitu kusut. Ini pasti akhir dari karierku sebagai kepala sekolah. Akhir dari profesiku sebagai guru."
"Hati-hati dong, pak! protes Bu Kus sembari membuka amplop. Isinya segepok uang seratus ribuan dan selembar surat. "Ya, ampun ! banyak amat. dan surat ini . . ."
Pak kus menyandarkan kepalanya ke belakang, ke kursi mobil yang didudukinya.
"Ini. . .ini. . ." Wajah bu kus memucat, membaca isi surat itu. "Pemutusan Hubungan Kerja. . ."
Pak kus menelan ludah."Ya, itu amplop terakhir kita, Bu. Sungguh yang terakhir!"

Kepala bu kus terkulai di bahu Pak kus.
"Bu, bangun, bu ! bu. . .!"

Senin, 28 April 2014

Bapak, Mengapa Aku Berbeda ?

http://safasc.files.wordpress.com/2010/11/ayah-dan-anak2.jpg
Memang aku tergolong keluarga yang miskin, bapakku adalah seorang buruh, ibuku adalah tukang cuci pakaian. Walaupun kami serba kekurangan, keluarga kami tetap penuh dengan kasih sayang. Tetapi Alhamdulillah kita tidak pernah mengalami apa yang namanya kelaparan, karena ibukku pintar mengatur uang.

"Bapak.!"
"Iya, nak ?"
"Dede, pergi ke sekolah dulu, ya"
"Iya, nak. Hati-hati ya ?"

Aku pergi ke sekolah biasa dengan berjalan kaki, karena bekalku tidak cukup untuk naik kendaraan umum. Aku tetap menikmatinya, siapa yang tidak suka berjalan di pagi hari dengan udara sejuk pedesaan. Ku menyusuri setiap jalan dengan pemandangan sawah yang membentang luas berwarna hijau. Gemercik air selokan membuat damainya suasana di desaku. Jarak rumah ke sekolah SD ku kira kira 1 Km. Memang jarak yang tidak dekat, tapi biasa berangkat jam 5 Shubuh.

Jam Setengah tujuh aku biasa masuk sekolah, tapi Alhamdulillah aku jarang terlambat. Ku nikmati hari hari ku di sekolah bermain bersama teman, belajar bersama teman. Ku mendapat banyak pengalaman di sekolah. Sampai saat ini aku tidak pernah bosan apa yang dinamakan belajar, teman temanku biasanya sering menghabiskan bekalnya untuk jajan di kantin, tapi aku berbeda aku selalu menyisakan uangku untuk ditabungkan agar aku bisa membeli sepeda. Aku tau ayahku tak mampu membeli sepeda baru.

Jam 11 siang, bel pulang berbunyi, ku mengemasi peralatan sekolahku ku mengeceknya lagi sampai tak ada yang ketinggalan. Seperti biasa pulang pergi aku selalu menyusuri jalan yang telah aku lewati sebelumnya. Walaupun sekarang udara dari sejuk berubah menjadi panas.

Sesampainya di rumah aku selalu membantu Ibuku menyiapkan makanan untuk kita semua. 
"Nak ?"
"Iya, bu."
"Suruh bapakmu makan dulu"
"Iya. bu" aku segera pergi untuk memanggil bapakku yang sedang bekerja
"Pak, makan dulu, itu makanan sudah siap"
"Iya, nanti bapak kesana"

Kita selalu makan bersama ditengah terangnya lilin, maklum listrik kami sudah dicabut minggu lalu, tapi kami sekeluarga tetap menikmatinya.
Aku ingat pesan ibu guruku, bahwa semua siswa harus memakai pakaian khusus untuk memperingati Hari kartini. Aku bergegas memilih baju yang akan aku kenakan besok. Tapi aku sekalipun tidak pernah mempunyai baju yang spesial, bajuku semuanya sudah jelek dan robek. Aku meminta ke Bapaku apakah aku bisa mempunyai baju spesial besok. Bapaku menyanggupinya

Aku segera tidur, dan aku tidak sabar untuk bangun pagi esok, dan cepat cepat menunjukan pakaian baruku besok. 
Tapi kali ini aku malah bangun jam 6 pagi. aku langsung bergegas mandi dan menyiapkan buku yang dibawa kali ini. Aku langsung memakai baju baru yang sudah disiapkan oleh ibu untuk memperingati hari Kartini. 

"Nak, ayo ! bapak antar"
"Ayo, pak"

Sesampainya di sekolah, aku terheran. Mengapa semua teman temanku, memandangku seperti, apakah mungkin gara gara aku pakai baju baru. Ah tidak mungkin, karena ada juga yang menertawaiku, mungkin bajuku ini kuno dan jelek, memang aku berbeda dengan teman temanku yang orang tuanya berkecukupan. Wajahku yang tadi bahagia berubah menjadi sedih. Aku memandang baju yang telah dibuat oleh ayahku. Kini aku sadar kenapa aku ditertawakan oleh teman teman.

"Bapak, mengapa aku berbeda !"
"Beda apa nak."
"Ini bajuku pak"
"Bajumu kenapa ? itu sudah bapak beli susah susah lho"
"Iya,bapak, tapi ini kan Kebaya.. "
"Lho kan katamu, buat memperingati hari Kartini, ya, tak buatin baju kebaya."
"Tapi, aku kan laki laki, bapak."
"alah, ya biarin kan biar beda sama temanmu yang laki laki"
"Ya elah bapak"

oleh : Algifari

Minggu, 27 April 2014

Cerita Humor Koplak Terbaru 2014


Bengkak Digigit Tawon

Seorang pasien yang hidungnya bengkak, mendatangi seorang dokter.

Dokter: "Tawon?"
Pasien: "Betul."
Dokter: "Hinggap dihidung?"
Pasien: "Benar."
Dokter: "Menyengat?"
Pasien: "Belum sempat tawon itu menyengat, sepupuku menghantamnya dengan sapu."

Bejo dan Emak

Bejo : mak..... emak sakit ya???
Emak : iya jo...
Bejo : hmm...kita ke dokter yuk...
Emak : mau bayar pake apa'an....kan duit kita udah tipis jo..
Uhukk...uhukk
Bejo : kita jual si tole(kambing) aja mak..
Emak : tapi kan tuh kambing kesayangan elu....
Bejo : kan bejo lbh sayang emak...
Emak : terserah elu aja dah...
Bejo : ya udah..bejo jual ke pasar ya mak...
Emak : iye...inget ya jo...tuh kmbing bandot..lu jual jutaan...
Jangan mau kalo ditawar murah..sayang....
Bejo : iya mak..bejo juga tau...kn bejo dah capek2 ngerawat...
Kalo gitu bejo pamit ya mak...
*berangkat jual kambing

Tak lama kemudian

bejo : mak...kambing kita laku..jutaan...
Emak : alhamdulillah....
Bejo : pertamanya dia cuma nawar 500rb mak..
Ihh enak aja...kambingnya ditawar murah bnget...kagak bejo kasih...
Emak : bagus tuh jo..emang pembeli jman sekarang maunya murah mulu'...terus... Lu jawab apa wktu dia nawar gitu...
Bejo : bejo bilang...pesan emak kambingnya mesti dihargai jutaan pak...
Gitu mak...
Alhamdulillah....setelah mikir lama...
Akhirnya dia mau juga....harga jutaan..
Bejo : Memang berapa jo dia beli tuh kambing???berapa juta???
Bejo : setengah juta mak...
Hebat kan...sesuai pesan emak..jutaan...gimana???puas mak???
Emak : #*@?&@#*-+???
semaput dadakan
Melawan Arus Jalan Satu Arah

Suatu ketika dalam perjalanan pulang kuliah, seorang mahasiswa salah melewati jalan. Jalan yang dia lewati adalah jalan satu arah. Awalnya dia tidak sadar, namun begitu polisi mendekati dan memintanya untuk menepi, dia baru sadar.

"Selamat siang Mas, Anda telah melanggar lalu lintas," kata polisi.

"Waduh Pak, saya pasti terlambat. Buktinya, orang-orang lain sudah pulang semua tapi saya baru mau berangkat."

Presiden bertanya

Bpk : "Sudah berapa lama jualan kue?"
Ibu : "Sudah hampir 30 tahun.
Bpk : "Terus anak ibu mana, kenapa tidak ada yang bantu?" ...
Ibu : "Anak saya ada 4, yang
ke-1 di KPK,
ke-2 di POLDA,
ke-3 di Kejaksaan dan yang
ke-4 di DPR, jadi mereka sibuk
sekali pak..."

Presiden kemudian
menggeleng-gele -ngkan kepala karena kagum...

Lalu dengan percaya diri Bapak Presiden
berbicara kesemua hadirin yang menyertai beliau, "Meskipun hanya jualan kue, ibu ini bisa menjadikan anaknya sukses dan jujur tidak korupsi...karen -a kalau mereka korupsi,
pasti kehidupan Ibu ini sudah sejahtera dan tinggal dirumah
mewah..."

Lalu sambil mengarahkan mike
yang sedang di pegangnya ,Bapak Presiden kembali
berbicara kepada wanita penjual kue tersebut ...
Bpk : "Apa jabatan anak di POLDA, KPK,KEJAKSAAN dan DPR?"

Lalu dengan polosnya sang wanita penjual kue tersebut itu berkata :"Sama... mereka berjualan kue juga disana ..."

Bpk : *Kejang2


Mobil Yang Mana ?

Seorang sopir pribadi sebuah keluarga mempunyai kebiasaan unik. Dia sering “bercinta” dengan pacarnya yang pembantu, si inem, yang pelayan seksi, di kolong mobil majikannya yang selalu diparkir di samping rumah.

Suatu malam, seperti biasa, dia sedang asyik indehoy dengan sang pembantu di kolong mobil. Baru 15 menit dia “kerja bakti”, ada orang yang menendang kakinya sambil berteriak,
“Parman, sedang apa kamu di situ?”
Si sopir yang bernama Parman sudah hafal betul itu suara majikan perempuannya. Dgn cuek dan mata tetap terpejam si Parman menyahut,

“Sedang betulin mobil, Nya”
Sekali lagi Parman ditendang kakinya, “Apa ? Sedang apa kamu!”
"Ya ampun, Nya! Saya lagi betulin mobil!” jawab Parman tetap konsen dengan kegiatannya.
Tapi lagi-lagi Parman ditendang kakinya. Kali ini sedikit lebih keras. “Kamu bilang lagi ngapain kamu !?”
“Astaga, Nyonya! Saya lagi betulin mobil!!!” Parman menyahut lebih keras nggak mau kalah.
Kata nyonya, “Betulin mobil yang mana ? Orang mobilnya udah dibawa ama bapak 5 menit yang lalu…..!”

Salah Solusi

Seorang dokter baru pulang ke rumah tengah malam, dan mendapati toiletnya mampet. Dia berkata kepada istrinya,

"Bu cepat telpon pak Bejo tukang langganan kita"
"Jam 2 pagi mau telpon tukang? Yang bener aja Pak!"
"Lha emang apa salahnya? Bapak juga sering dipanggil pasien jam segini"
Jadilah si ibu menelpon sang tukang, yang dalam pembicaraannya rada kesel karena mesti datang jam segitu. Si Ibu langsung mengatakan hal yang sama,
"Khan bapak juga sering dipanggil tengah malam gak papa, kenapa pak Bejo marah2?"
Pukul 3:30 sang tukang tiba dengan mata merah. Sang dokter langsung mengantarnya ketoilet yang mampet itu. Si tukang mengambil 2 butir tablet dari sakunya, menjatuhkannya ke dalam toilet dan berkata,
"Kalau tidak ada perubahan, telepon saya nanti siang!"
Mencuri di Bank

Seorang pencuri yang sangat ahli membobol bank dimana keahlian utamanya adalah memecahkan kode rahasia pintu lemari besi. Ia selalu bekerja sendiri tanpa dibantu anak buah atau asistennya. Suatu ketika, ketika ditengah malam memasuki sebuah bank yang baru 1 minggu dibuka.

Sebuah lemari penyimpanan dengan nomor pengaman yang paling canggih berhasil dibukanya. Namun ia sedikit heran, karena disana tidak terdapat uang sama sekali, melainkan cawan-cawan berisikan puding warna susu. Ruangannya pun dingin sekali. Akhirnya ia memutuskan untuk memakan puding-puding tersebut sebelum membuka lemari besi lainnya.

Karena lapar ia habiskan semua puding di lemari besi pertama. Lemari besi kedua berhasil dibuka, kembali ia temukan puding dalam cawan-cawan plastik. Seluruh lemari ada 5 unit, dan kesemuanya berisi puding, dan ia menghabiskan banyak sekali puding. Namun ia dengan kekenyangan pulang kerumah dan masih agak heran, kenapa bank itu tidak menyimpan uang sama sekali.

Atau mereka memang sudah mengetahuinya akan dicuri? “Aah biarlah yang penting aku kenyang” serunya.

Keesokan paginya dengan setengah mengantuk ia terbangun karena suara tukang koran memasukkan kedalam rumahnya melalui celah jendelanya. Sambil terkantuk ia membuka lembaran koran dan terpana melihat Head Line di halaman pertama dengan judul bertuliskan dengan huruf yang besar-besar. “BANK SPERMA KEBOBOLAN!”

Cerita Abu Nawas "Memindahkan Istana Ke Gunung"

http://2.bp.blogspot.com/-HJdBylP6m5o/T68RTwQJRAI/AAAAAAAAAf0/k_zxaHCG2_4/s1600/abunawas3.jpg
Baginda Raja baru saja membaca kitab tentang kehebatan Raja Sulaiman yang mampu memerintahkan, para jin memindahkan singgasana Ratu Bilqis di dekat istananya. Baginda tiba-tiba merasa tertarik. Hatinya mulai tergelitik untuk melakukan hal yang sama. Mendadak beliau ingin istananya dipindahkan ke atas gunung agar bisa lebih leluasa menikmati pemandangan di sekitar. Dan bukankah hal itu tidak mustahil bisa dilakukan karena ada Abu Nawas yang amat cerdik di negerinya.

Tanpa menunggu waktu Abu Nawas segera dipanggil untuk menghadap Baginda Raja Harun Al Rasyid. Setelah Abu Nawas dihadapkan, Baginda bersabda, "Abu Nawas kamu harus memindahkan istanaku ke atas gunung agar aku lebih leluasa melihat negeriku?" tanya Baginda sambil melirik reaksi Abu Nawas.

Abu Nawas tidak langsung menjawab. Ia sedang berpikir sejenak hingga keningnya berkerut. Tidak mungkin menolak perintah Baginda kecuali kalau memang ingin dihukum. Akhirnya Abu Nawas terpaksa menyanggupi proyek raksasa itu. Ada satu lagi, permintaan dari Baginda, pekerjaan itu harus selesai hanya dalam waktu sebulan. Abu Nawas pulang dengan hati masgul.

Di setiap malam ia hanya berteman dengan rembulan dan bintang-bintang. Hari-hari dilewati dengan kegundahan. Tak ada hari yang lebih berat dalam hidup Abu Nawas kecuali hari-hari ini. Tetapi pada hari kesembilan ia tidak lagi merasa gundah gulana. Keesokan harinya Abu Nawas menuju istana. Ia menghadap Baginda untuk membahas pemindahan istana. Dengan senang hati Baginda akan mendengarkan, apa yang diinginkan Abu Nawas.

"Ampun Tuanku, hamba datang ke sini hanya untuk mengajukan usul untuk memperlancar pekerjaan hamba nanti." kata Abu Nawas.
"Apa usul itu?"
"Hamba akan memindahkan istana Paduka yang mulia tepat pada Hari Raya Idul Qurban yang kebetulan hanya kurang dua puluh hari lagi."
"Kalau hanya usulmu, baiklah." kata Baginda.
"Satu lagi Baginda..." Abu Nawas menambahkan.
"Apa lagi?" tanya Baginda.
"Hamba mohon Baginda menyembelih sepuluh ekor sapi yang gemuk untuk dibagikan langsung kepada para fakir miskin." kata Abu Nawas. "Usulmu kuterima." kata Baginda menyetujui. Abu Nawas pulang dengan perasaan riang gembira. Kini tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Toh nanti bila waktunya sudah tiba, ia pasti akan dengan mudah memindahkan istana Baginda Raja. Jangankan hanya memindahkan ke puncak gunung, ke dasar samudera pun Abu Nawas sanggup.

Desas-desus mulai tersebar ke seluruh pelosok negeri. Hampir semua orang harap-harap cemas. Tetapi sebagian besar rakyat merasa yakin atas kemampuan Abu Nawas. Karena selama ini Abu Nawas belum pemah gagal melaksanakan tugas-tugas aneh yang dibebankan di atas pundaknya oleh Baginda Raja itu. Namun ada beberapa orang yang meragukan keberhasilan Abu Nawas kali ini. Saat-saat yang dinanti-nantikan tiba. Rakyat berbondong-bondong menuju lapangan untuk melakukan sholat Hari Raya Idul Qurban.

Dan seusai sholat, sepuluh sapi sumbangan Baginda Raja disembelih lalu dimasak kemudian segera dibagikan kepada fakir miskin. Kini giliran Abu Nawas yang harus melaksanakan tugas berat itu. Abu Nawas berjalan menuju istana diikuti oleh rakyat. Sesampai di depan istana Abu Nawas bertanya kepada Baginda Raja, "Ampun Tuanku yang mulia, apakah istana sudah tidak ada orangnya lagi?"

"Tidak ada." jawab Baginda Raja singkat. Kemudian Abu Nawas berjalan beberapa langkah mendekati istana. Ia berdiri sambil memandangi istana. Abu Nawas berdiri mematung seolah-olah ada yang ditunggu. Benar. Baginda Raja akhirnya tidak sabar.

"Abu Nawas, mengapa engkau belum juga mengangkat istanaku?" tanya Baginda Raja.

"Hamba sudah siap sejak tadi Baginda." kata Abu Nawas. "Apa maksudmu engkau sudah siap sejak tadi? Kalau engkau sudah siap. Lalu apa yang engkau tunggu?" tanya Baginda masih diliputi perasaan heran.

"Hamba menunggu istana Paduka yang mulia diangkat oleh seluruh rakyat yang hadir untuk diletakkan di atas pundak hamba. Setelah itu hamba tentu akan memindahkan istana Paduka yang mulia ke atas gunung sesuai dengan titah Paduka." Baginda Raja Harun Al Rasyid terpana. Beliau tidak menyangka Abu Nawas masih bisa keluar dari lubang jarum.

Kamis, 24 April 2014

Fakta Unik Para Tokoh Dunia

ABRAHAM LINCOLN
Tahun 1831 ia mengalami kebangkrutan dalam usahanya. Tahun 1832 ia mengalami kekalahan dalam pemilihan tingkat lokal. Di tahun 1833 ia lagi-lagi mengalami kebangkrutan. Tahun 1835 istrinya meninggal dunia. Tahun 1836 ia menderita tekanan mental yang begitu berat dan hampir saja masuk rumah sakit jiwa. Di tahun 1837 ia gagal dalm suatu kontes pidato. Tahun 1840 ia gagal dalam pemilihan anggota senat AS. Tahun 1842 ia (lagi-lagi) mengalami kekalahan untuk duduk sebagai anggota kongres AS. Tahun 1848 ia gagal lagi di kongres. Tahun 1855 lagi lagi gagal di senat AS. Di tahun 1856 ia menderita kekalahan dalam pemilihan untuk menduduki kursi wakil presiden. Tahun 1858 ia kalah lagi di senat. Tapi akhirnya di tahun 1860 ia terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat!
See? kegagalan yang kerap di alami tak menjadi penghambat Lincoln untuk terus dan terus berusaha sekuat tenaga. Jangan pernah menyerah terhadap kegagalan yang datang bertubi-tubi. Karena suatu saat kesuksesan pun akan kita raih juga. Benar kata pepatah, kegagalan itu adalah kesuksesan yang tertunda.

NAPOLEON BONAPARTE
http://www.biographyonline.net/military/images/Napoleon.jpg
Napoleon berada di peringkat 34 pada Buku 100 Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah, karena kontribusinya sebagai penakluk dan pemimpin dari Prancis. Dibawah Alexander Yang Agung (Penakluk dari Macedonia) dan diatas Thomas Alva Edison (Penemu lampu pijar serta Fonograf)
Saat berperang di Timur Tengah pada tahun 1799, ia bermaksud melepaskan 1200 tentara Turki yang berhasil ditahan Prancis, saat Prancis berhasil merebut Jaffa. Saat itu Napoleon sedang terserang influenza. Ketika menginspeksi pasukannya ia batuk terus terusan (ane gak tau nih doi batuk dahak atau batuk kering ) hingga ia mengatakan “Ma sacre toux” (yang artinya kurang lebih “batuk sialan!”). Nah, sialnya perwira yang berada disampingnya merasa sang jenderal mengucapkan “Massacrez tous!” (yang artinya “bunuh semua!”). Akibatnya, seluruh 1200 orang tawanan Turki itu dibunuh. SEMUANYA.!! Hanya karena batuk sang jenderal dan kuping perwira yang error.

GALILEO GALILEI
[Galileo_Galilei_portrait.jpg]
Berdasarkan buku 100 Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah karangan Micheal H. Hart, ia menempati peringkat 12 atas jasanya karena secara akurat mengemukakan teori Heliosentris, berada dibawah Louis Pasteur (Ilmuwan, penemu Pasteurisasi) dan diatas Aristoteles (Filsuf Yunani yang berpengaruh). Galileo merupakan ilmuwan yang kurang beruntung, bahkan setelah kematiannya pun ia masih saja mengalami kesulitan. Setelah pandangan-pandangan ilmiahnya soal tata surya membuat dirinya berurusan dengan pihak gereja, kematiannya pun dirundung masalah.
Saat kematiannya pada tahun 1642, jasadnya tidak langsung dikubur, tapi masih disimpan hingga tahun 1737, kira-kira hampir seabad. Tak cukup hanya itu, sebelum dikubur di Gereja Santa Croce, Florence, Italia, seorang bangsawan tega memotong tiga jari Galileo sebagai “kenang-kenangan terakhir”. Dua dari ketiga jari itu kemudian dimiliki oleh seorang dokter Italia, dan jari ketiganya -jari tengah- saat ini berada di Museum Sejarah Ilmu Pengetahuan di Florence, Italia. Untuk apa? Untuk dipajang diatas tiang marmer dan menunjuk ke langit.

CHARLIE CAPLIN
http://kimmoeller.bplaced.net/wp-content/uploads/2013/06/Charlie-Chaplin-Kim-M%C3%B6ller-Webdesign.jpg
Tokoh satu ini dikenal sebagai komedian terkenal di tahun 1920-an yang sering bermain dalam film bisu hitam-putih. Orang tua Chaplin bukanlah orang tua yang layak jadi panutan. Ibunya punya dua anak hasil selingkuhan dan ayahnya meninggalkan keluarga ketika Chaplin masih belia.
Ibunya kemudian meninggal karena sakit liver setelah sebelumnya kena syphilis dan gizi buruk. 
Chaplin pernah dimintai tanggung jawab menafkahi seorang anak yang bukan anaknya. Seorang perempuan mengaku punya anak dari Chaplin tapi hakim menolak memutuskan perkara itu sehingga Chaplin harus membayar sejumlah uang.
Ketika Chaplin meninggal mayatnya sempat dicuri buat tebusan tapi kemudian dikembalikan dua bulan kemudian.

ALBERT EINSTEIN
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/f/f7/Albert_Einstein_portrait.jpg/220px-Albert_Einstein_portrait.jpg
Tokoh ilmuwan jenius berdarah Yahudi ini dikenal sebagai sosok brilian yang ramah. Namun Eisntein sebetulnya pernah mengoleksi sejumlah kerangka tulang manusia di toilet rumahnya.
Pada 1901 Einstein dan pacarnya Mileva Maric tengah berlibur di Italia. Setelah itu Mileva hamil dan melahirkan anak namun Einstein ketika itu tidak punya uang untuk menghidupi Mileva dan bayinya. Bayi bernama Lieserl itu lahir pada 1902. Pada suratnya kepada MIleva di tahun 1903 nama Lieserl tidak lagi disebut-sebut hingga menghilang. Tak ada informasi apa yang terjadi pada bayi mereka itu. Ada kemungkinan bayi itu meninggal karena demam berdarah.
Einstein kemudian meninggalkan Mileva pada 1912 (lalu menceraikannya pada 1919) untuk menikahi sepupunya Elsa Lowenthal. Dalam kehidupan pernikahannya kemudian Einstein banyak berselingkuh hingga Elsa meninggal pada 1936. Tampaknya seorang Einstein juga tidak salah jika selain jenius bisa dibilang seorang playboy. 

WILHELM STEINITZ
http://fotosdeajedrez.weebly.com/uploads/4/3/4/7/4347754/4626170_orig.jpg
Pada masa jayanya, ia adalah salah satu pemain catur cemerlang di dunia. Namun saat semakin tua, ia secara perlahan-lahan dijangkiti kegilaan, dan sering merasa bahwa ia dapat menelepon seseorang tanpa menggunakan telepon, ataupun bermain catur tanpa menyentuh bidak. Puncak kegilaannya terjadi ketika ia mengumumkan kepada masyarakat luas bahwa ia menantang Tuhan untuk bermain catur. Lebih parah lagi, ia menawarkan fur (poor) 1 bidak dalam pertandingan itu!!
 

Puisi : Barang Kotak

Beepp..
Dering Sesuatu Berbentuk Kotak Berbunyi
Geronjat...
Kau lekas buru buru menghampiri

Kau ambil dengan gesit
Kau lihat dan baca dengan teliti
Kau balas dengan terbelit belit
Kau cek kembali dengan hati hati


Siapa tak kenal dengan barang kotak ini
Kecil, Canggih, Warna warni
Semua orang butuh barang ini
Tambah girang barang kotak ini

Zaman Sudah Gila
Kini barang kotak ini sudah merajalela
Entah miskin atau kaya
Seluruh pelosok pasti mempunyainya

Dulu barang kotak biasa saja
Kini ia tunjukkan keganasannya
Ia melekat erat pada tangan manusia
Seperti benalu merayapi tumbuhan tak berdosa

Kini semua orang tak bisa lepas dari barang kotak ini
Semua orang menjadi lalai dan cuai
Kewajiban mereka tinggalkan, lebih mementingkan barang kotak ini

Ia seperti kekasih pujaan hati
Bila ia berbunyi, datang orang menghampiri
Ia seperti primadona
Selalu digeganggam dan terpesona dengan wujudnya

Selasa, 22 April 2014

Kata Kata Bijak Luar Biasa Nabi Muhammad SAW

http://sphotos-c.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash2/t1.0-9/39968_412959769354_6411509_n.jpg
Orang besar bukan orang yang otaknya sempurna tetapi orang yang mengambil sebaik-baiknya dari otak yang tidak sempurna.

Ada dua hal tidak tertandingi kejelekannya, yaitu: Berbuat syirik dan membuat rugi umat Islam. Begitu pula, terdapat dua perkara yang tidak tertandingi kebaikannya, ialah : Beriman kepada Allah, serta memberi manfaat kepada umat Islam.
 
Memperbaiki diri adalah alat yang ampuh untuk memperbaiki orang lain.

Jika seseorang tidak mencintai anda janganlah dia anda benci, karena mungkin akan tumbuh benih cinta kembali.

Ingatlah, boleh jadi manusia itu mencintai sesuatu yang membahayakan dirinya atau membenci sesuatu yang bermanfaat baginya. Mohonlah petunjuk Nya

Tiga sifat manusia yang merusak adalah, kikir yang dituruti, hawa nafsu yang diikuti, serta sifat mengagumi diri sendiri yang berlebihan.
Pahlawan bukanlah orang yang berani meletakkan pedangnya ke pundak lawan, tetapi pahlawan sebenarnya ialah orang yang sanggup menguasai dirinya dikala ia marah.

Allah tidak melihat bentuk rupa dan harta benda kalian, tapi Dia melihat hati dan amal kalian.

Cinta kepada Allah adalah puncaknya cinta. Lembahnya cinta adalah cinta kepada sesama.

Keluhuran budi pekerti akan tampak pada ucapan dan tindakan.

Orang yang berjiwa besar teguh pendiriannya, tetapi tidak keras kepala.
                                                     
Ulurkan cintamu karena Tuhanmu dan tariklah cintamu karena Tuhanmu, anda tentu tak akan kecewa.
Sahabat yang sejati adalah orang yang dapat berkata benar kepada anda, bukan orang yang hanya membenarkan kata-kata anda.

Bekerja atas dorongan cinta akan terasa senang tiada jemu dan lelah.

Orang besar menempuh jalan kearah tujuan melalui rintangan dan kesukaran yang hebat.

Berbuat baiklah kepada orang lain seperti berbuat baik kepada diri sendiri.

Cinta akan menggilas setiap orang yang mengikuti geraknya, tetapi tanpa gilasan cinta, hidup tiada terasa indah.

Bukan kecerdasan anda, melainkan sikap andalah yang yang akan mengangkat anda dalam kehidupan.
Perjuangan seseorang akan banyak berarti jika mulai dari diri sendiri.

Jika rasa cinta terbalas, maka bersyukurlah karena Allah telah memberikan hidup lebih berharga dengan belas Kasih-Nya.

Cinta indah seperti bertepuk dua tangan, tak akan indah jika hanya sebelah saja.

Naluri berbicara kita akan mencintai yang memuja kita, tetapi tidak selalu mencintai yang kita puja.

Dalam perkataan, tidak mengapa anda merendahkan diri, tetapi dalam aktivitas tunjukkan kemampuan Anda.
Tegas berbeda jauh dengan kejam. Tegas itu mantap dalam kebijaksanaan sedangkan kejam itu keras dalam kesewenang-wenangan.

Orang dermawan dekat kepada Allah, dekat pada rahmat-Nya, serta selamat dari siksa-Nya. Sedang orang kikir, jauh dari Allah, jauh dari rahmat-Nya dan dekat sekali kepada siksa-Nya.

Tanda tanda orang yang celaka antara lain: Bergairah dalam mengerjakan perbuatan-perbuatan haram, menjauhi nasihat ulama dan selalu menyendiri jika mengerjakan shalat.

Hidup didunia hanya merupakan tempat tinggal sementara untuk melanjutkan perjalanan nan jauh menuju keabadian.

Cintai dan sayangilah para fakir miskin, maka Allah akan menyayangimu.

Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, seseorang tidak beriman hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.

Jauhilah dengki, karena dengki memakan amal kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.

Yang terbaik di antara kalian adalah mereka yang berakhlak paling mulia.

Kata Kata Bijak Para Sahabat Nabi Muhammad SAW

http://2.bp.blogspot.com/-Mni-bB2EqGc/TiKAia56wsI/AAAAAAAAAhA/a1NMGm9sjYc/s320/Kata+kata+mutiara+hikmah+nabi.jpg

Orang yang paling aku sukai adalah dia yang menunjukkan kesalahanku. ~ Khalifah ‘Umar
 
Antara tanda-tanda orang yang bijaksana itu ialah :
1. Hatinya selalu berniat suci. Lidahnya selalu basah dengan zikrullah.
2. Kedua matanya menangis kerana penyesalan (terhadap dosa).
3. Segala perkara dihadapinya dengan sabar dan tabah.
4. Mengutamakan kehidupan akhirat daripada kehidupan dunia.
~ Sayidina Utshman bin Affan

Tidak ada kebaikan ibadah yang tidak ada ilmunya dan tidak ada kebaikan ilmu yang tidak difahami dan tidak ada kebaikan bacaan kalau tidak ada perhatian untuknya. ~ Sayidina Ali Karamallahu Wajhah

Ketahuilah bahwa sabar, jika dipandang dalam permasalahan seseorang adalah ibarat kepala dari suatu tubuh. Jika kepalanya hilang maka keseluruhan tubuh itu akan membusuk. Sama halnya, jika kesabaran hilang, maka seluruh permasalahan akan rusak. ~ Khalifah ‘Ali

Sabar memiliki dua sisi, sisi yang satu adalah sabar, sisi yang lain adalah bersyukur kepada Allah. ~ Ibnu Mas’ud

Takutlah kamu akan perbuatan dosa di saat sendirian, di saat inilah saksimu adalah juga hakimmu. ~ Khalifah ‘Ali

Niat adalah ukuran dalam menilai benarnya suatu perbuatan, oleh karenanya, ketika niatnya benar, maka perbuatan itu benar, dan jika niatnya buruk, maka perbuatan itu buruk. ~ Imam An Nawawi

Sesungguhnya seorang hamba itu bila merasa ujub kerana suatu perhiasan dunia, niscaya Allah akan murka kepadanya hingga dia melepaskan perhiasan itu. ~ Sayidina Abu Bakar

Aku mengamati semua sahabat, dan tidak menemukan sahabat yang lebih baik daripada menjaga lidah.Saya memikirkan tentang semua pakaian, tetapi tidak menemukan pakaian yang lebih baik daripada takwa. Aku merenungkan tentang segala jenis amal baik, namun tidak mendapatkan yang lebih baik daripada memberi nasihat baik. Aku mencari segala bentuk rezki, tapi tidak menemukan rezki yang lebih baik daripada sabar. ~ Sayidina Umar bin Khattab

Barangsiapa takut kepada Allah SWT nescaya tidak akan dapat dilihat kemarahannya. Dan barangsiapa takut pada Allah, tidak sia-sia apa yang dia kehendaki. ~ Sayidina Umar bin Khattab

Orang yang bakhil itu tidak akan terlepas daripada salah satu daripada 4 sifat yang membinasakan yaitu : Ia akan mati dan hartanya akan diambil oleh warisnya, lalu dibelanjakan bukan pada tempatnya atau; hartanya akan diambil secara paksa oleh penguasa yang zalim atau; hartanya menjadi rebutan orang-orang jahat dan akan dipergunakan untuk kejahatan pula atau; adakalanya harta itu akan dicuri dan dipergunakan secara berfoya-foya pada jalan yang tidak berguna. ~ Sayidina Abu Bakar

Orang yang banyak ketawa itu kurang wibawanya. Orang yang suka menghina orang lain, dia juga akan dihina. Orang yang mencintai akhirat, dunia pasti menyertainya.
Barangsiapa menjaga kehormatan orang lain, pasti kehormatan dirinya akan terjaga. ~ Sayidina Umar bin Khattab

Hendaklah kamu lebih memperhatikan tentang bagaimana amalan itu diterima daripada banyak beramal, kerana sesungguhnya terlalu sedikit amalan yang disertai takwa. ~ Sayidina Ali Karamallahu Wajhah

Janganlah seseorang hamba itu mengharap selain kepada Tuhannya dan janganlah dia takut selain kepada dosanya. ~ Sayidina Ali Karamallahu Wajhah

Tiada sholat yang sempurna tanpa jiwa yang khusyu’.
Tiada puasa yang sempurna tanpa mencegah diri daripada perbuatan yang sia-sia.
Tiada kebaikan bagi pembaca al-Qur’an tanpa mengambil pangajaran daripadanya.
Tiada kebaikan bagi orang yang berilmu tanpa memiliki sifat wara’.
Tiada kebaikan mengambil teman tanpa saling sayang-menyayangi.
~ Sayidina Ali Karamallahu Wajhah

Nikmat yang paling baik ialah nikmat yang kekal dimiliki.
Doa yang paling sempurna ialah doa yang dilandasi keikhlasan. Barangsiapa yang banyak bicara, maka banyak pula salahnya. Siapa yang banyak salahnya, maka hilanglah harga dirinya. Siapa yang hilang harga dirinya, bererti dia tidak wara’. Sedang orang yang tidak wara’ itu berarti hatinya telah mati. ~ Sayidina Ali Karamallahu Wajhah

Kulupakan dadaku dan kubelenggu penyakit tamakku, karena aku sadar bahwa sifat tamak bisa melahirkan kehinaan. (Imam Syafií)

Aku tidak pernah berdialog dengan seseorang dengan tujuan aku lebih senang jika ia berpendapat salah. (Imam Syafií)

Setiap manusia mempunyai orang yang dicintai dan yang dibenci. Tapi bagimu, jika ada maka berkumpullah kamu dengan orang-orang yang bertaqwa. (Imam Syafií)

Didiklah anak-anakmu itu berlainan dengan keadaan kamu sekarang kerana mereka telah dijadikan Tuhan untuk zaman yang bukan zaman engkau. (Umar bin Khatab)

Aku mengamati semua sahabat, dan tidak menemukan sahabat yang lebih baik daripada menjaga lidah. Aku memikirkan tentang semua pakaian, tetapi tidak menemukan pakaian yang lebih baik daripada takwa. Aku merenungkan tentang segala jenis amal baik, namun tidak mendapatkan yang lebih baik daripada memberi nasihat baik. Aku mencari segala bentuk rezki, tapi tidak menemukan rezki yang lebih baik daripada sabar. (Umar bin Khattab)

Siapa takut kepada Allah, maka tidak hidup marahnya, Siapa yang bertaqwa kepada-Nya, niscaya tidak mengerjakan sesukanya. (Umar bin Khatab)

Allah telah memberikan petunjuk kepadaku sehinga aku bisa mengenali diriku sendiri dengan segala kelemahan dan kehinaanku.
(Umar bin Khathhab)

Kebahagiaanku jika mati sebelum baligh lalu aku dimasukkan kedalam syurga, tidak sebahagia jika aku hidup sampai tua dalam keadaan mengenal Allah yaitu yang paling bertaqwa, rajin mengerjaklan ibadah serta menerima apa apa yang telah di berikan Allah kepadaku. (Ali Bin Abu Thalib)

Minggu, 20 April 2014

Puisi : Raisopopo (Fadli Zon)

http://rmol.co/images/berita/normal/249871_06340030072013_Fadli_Zon.jpg
Aku raisopopo
Seperti Wayang digerakkan dalang
Cerita sejuta harapan
Menjual mimpi tanpa kenyataan
Berselimut citra fatamorgana
Dan kau terkesima

Aku raisopopo
Menari di gendang tuan
Berjalan dari gang hingga comberan
Menabuh genderang blusukan
Kadang menumpang bus karatan

Di antara banjir dan kemacetan
Semua jadi liputan
Menyihir dunia maya
Dan kau terkesima

Aku raisopopo
Hanya bisa berkata rapopo


*Bagaimana pendapat kalian tentang puisi terbaru karangan fadli zon ini,. Kalau dibaca sih pasti sobat sudah pada tahu untuk siapa puisi itu. Tapi... kalau menurut saya sih, kalau dilihat kata katanya mungkin dia sendiri yang raisopopo atau tidak bisa apa apa, bisanya cuman nyindir doang. LOL :D

Puisi : Air Mata Buaya (Fadli Zon)

http://rmol.co/images/berita/normal/103526_10431516032013_fadli_zon.jpg
Kau bicara kejujuran sambil berdusta
Kau bicara kesederhanaan sambil shopping di Singapura
Kau bicara nasionalisme sambil jual aset negara
Kau bicara kedamaian sambil memupuk dendam

Kau bicara antikorupsi sambil menjarah setiap celah
Kau bicara persatuan sambil memecah belah
Kau bicara demokrasi ternyata untuk kepentingan pribadi
Kau bicara kemiskinan di tengah harta bergelimpangan

Kau bicara nasib rakyat sambil pura-pura menderita
Kau bicara pengkhianatan sambil berbuat yang sama
Kau bicara seolah dari hati sambil menitikkan air mata

Air mata buaya

Puisi : Amuk (Sutardji Calzoum Bachri)

http://www.jakarta.go.id/web/system/jakarta2011/public/images/encyclopedia/c8c50457527ce7089f05df1d6260e861.jpg
Maafkan aku
Aku bukan sekedar penyair
Aku depan             
Depan yang memburu
Membebaskan kata
Memanggil Mu

Pot pot pot
Pot pot pot
Kalau pot tak mau pot

Biar pot semau pot
Mencari pot
Pot
Hei, Kau dengar manteraku
Kau dengar kucing memanggilMu

Izukalizu
Mapakazaba itasatali
Tutulita
Papaliko arukabazaku kodega zuzukalibu
tutukaliba dekodega zamzam lagotokoco
zukuzangga zagezegeze zukuzangga zege
zegeze zukuzangga zegezegeze zukuzang
ga zegezegeze zukuzangga zegezegeze zu
kuzangga zagezegeze aahh....!

Nama nama kalian bebas
Carilah tuhan semaumu

Jumat, 18 April 2014

Duduk Di Tepi Sungai

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/c/c3/Seno_gumira.jpg
Cucunya tertawa terkekeh-kekeh. Ia meraup remah remah roti dari telapak tangannya yang bergurat kasar. Melemparkannya ke pasir putih. Lantas merpati itu mematukinya. Angin menggelepar di tingkah bunyi sayap mereka, yang datang dan pergi sesekali. Suara sungai seperti aliran mimpi. “Terbangnya cepat dan tinggi ?” Tanya si cucu, sambil memandangi makhluk bersayap itu tanpa berkedip.

“Tentu saja, coba lihat matanya . . . .”

Dan lelaki tua yang telah merasuki hidup itupun bercerita tentang mata, paruh dan bulu-bulu dan warna-warna, dan segala macam hal tentang merpati yang diketahuinya. Ia memindahkan seluruh pengalaman hidupnya pada si anak. Dan si anak merekam seluruh pengalaman hidup orang tua itu.

“Merpati juga sering disebut burung dara, kamu tahu kenapa?”
“Tidak.”
“Aku juga tidak. Orang-orang tua seperti aku tidak pernah diberi pelajaran Bahasa Indonesia. Mestinya kamu lebih tahu.”
“Aku akan tahu nanti, tapi sekarang belum.” Anak itu menjawab sambil menatap mata kakeknya.

Mata anak itu bening, tajam dan bercahaya, bagaikan memancar langsung dan menyelusup ke dalam mata kakeknya. Mata kakeknya juga bercahaya, tapi tidak lagi begitu bening dan tidak lagi begitu tajam. Mata itu juga menusuk langsung ke dalam mata cucunya. Kakek itu melihat masa lalu melalui cucunya. Dulu ia juga mengenal banyak hal dari kakeknya. Ia mengenal kerbau. Ia mengenal bunga rumput. Ia mengenal seruling. Ia mengenal suara sungai. Itu semua dari kakeknya. Lantas terpandang telapak tangannya sendiri yang keriput. Ia teringat telapak tangan kakeknya. Telapak tangannya sendiri dulu juga seperti telapak tangan cucunya.

“Itu semua sudah berlalu,” batin kakek itu sambil terus memandang mata cucunya. Ia seperti mencari sesuatu dari dirinya dalam diri cucunya.
“Tentu ada sesuatu dari dalam diriku.” Batinnya lagi, “seperti jua ada sesuatu dari diri kakekku dalam diriku.”
“Apakah kakek dulu juga bersekolah seperti aku ?”
“Aku tidak pernah sekolah, nak. Aku dulu belajar mengaji.”
“Mengaji.?”
“Ya, mengaji. Kamu tahu kan ? sebetulnya itu sekolah juga. Ayat-ayat kitab suci mengajarkan bagaimana hidup yang benar.”
“Kenapa bapak tidak mengajari aku mengaji sekarang ?”
“Tanyakan saja sendiri. Mungkin karena waktumu habis untuk sekolah. Kamu selalu pergi sampai sore.”
“Kalau memang kitab suci mengajarkan hidup yang benar, seharusnya bapak menyuruhku belajar mengaji.”
“Ya, tapi banyak orang berpikir belajar mengaji itu aneh di zaman sekarang. Mungkin bapakmu juga berpikir begitu. Ia berpikir kamu lebih baik belajar bahasa inggris.”
“Apakah hidup kita akan tidak benar kalau tidak pernah belajar mengaji sama sekali?” kakek itu terperangah. Keningnya berkerut. Ia menatap mata cucunya yang bening dan polos bercahaya. Itulah pertanyaan yang pernah ia ajukan kepada kakeknya dulu. Tapi ia tak ingin menjawab pertanyaan cucunya dengan jawaban kakeknya. Ia sendiri sudah lama berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan. Sekarang ia merasa harus berusaha keras menjawab pertanyaan cucunya itu, karena ia berpikit akan teringat sampai mati. Sering kali ia merasa sudah menemukan jawaban, tapi ia takut itu merupakan jawaban yang tidak sesuai untuk cucunya. Selama ini  memang sudah menemukan keyakinan, namun ia juga ingin cucunya menemukan keyakinan sendiri.

“Tanyakan saja pada gurumu,nak. Tentunya ia punya jawaban yang bagus.”
“Guruku tidak menjawab, kek. Ia hanya mengajarkan bagaimana caranya aku menemukan jawaban.”
“Wah, kalau begitu sekolahmu itu pasti sekolah yang bagus. Kamu beruntung sekali, nak. Kamu sangat beruntung . . .”

Anak kecil itu masih memandang mata kakeknya tanpa berkedip. Mereka saling bertatapan dan saling merasuki lorong kehidupan yang amat panjang ke masa lalu dan ke masa depan. Orang tua itu teringat kembali ia dulu juga menatap mata kakeknya begitu lama dan ia waktu itu merasakan rekaman sebuah perjalanan panjang sedang memasuki dirinya dan kini ia tengah memindahkan perjalanan kakeknya dan perjalanannya sendiri dalam diri cucunya dan ia membayangkan cucunya kelak setelah menjadi kakek akan memindahkan perjalanan leluhurnya ke dalam diri cicitnya. Sungai itu mendesah. Burung dara mengepakkan sayap. Desah sungai selalu seperti itu dan kepak sayap burung selalu seperti itu tapi manusia selalu berubah. Kakek itu mendengar cucunya tertawa terkekeh-kekeh. Kakek itu memandang cucunya berlari-lari melintasi kerumuman burung-burung sehingga burung-burung itu beterbangan sebentar sebelum merendah kembali mematuki remah-remah roti di antara kerikil. Cucunya berlari-larian di atas kerikil bercampur pasir putih yang bersih.

“Ini sebuah tempat yang bagus,” pikir orang tua itu. Di seberang sungai itu ada pohon-pohon yang rindang tempat remaja berpacaran dan di seberang pohon-pohon yang rindang itu ada pagar tembok dan diluarnya  membayang deretan gedung-gedung bertingkat dan diatas gedung-gedung bertingkat itu bertengger antena-antena parabola. Mata orang tua itu berkedip-kedip karena silau

“Kakek ! ke sini !”

Terdengar cucunya memanggil. Orang tua itu duduk mendekat. Ia melihat cucunya duduk di tepi sungai, sungai itu jernih. Dasarnya terlihat jelas. Terlihat ikan bergerak-gerak di celah batu. Ia memandangi cucunya, ingin tahu anak itu mau berkata apa. Tapi anak kecil itu Cuma membenamkan dagu antara kedua lututnya. Seperti mendengarkan sungai. Remah-remah roti yang mereka bagikan telah habis. Burung-burung melayang pergi, mereka berdua memandang burung-burung berterbangan di langit. Makin lama makin menjauh dan menghilang seperti masa yang berlalu. Tak terdengar lagi kepak sayap burung. Tinggal suara sungai yang gemericik dan udara yang bergetar ditembus cahaya matahari.

(Seno Gumira Ajidarma)

Dodolitdodolitdodolibret

[seno+gumira.jpg]
Kiplik sungguh mengerti, betapapun semua itu tentunya hanya dongeng.

“Mana ada orang bisa berjalan di atas air,” pikirnya.

Namun, ia memang berpendapat bahwa jika seseorang ingin membaca doa, maka ia harus belajar membaca doa secara benar.

”Bagaimana mungkin doanya sampai jika kata-katanya salah,” pikir Kiplik, ”karena jika kata-katanya salah, tentu maknanya berbeda, bahkan jangan-jangan bertentangan. Bukankah buku Cara Berdoa yang Benar memang dijual di mana-mana?”

Adapun dongeng yang didengarnya menyampaikan pesan, betapa siapa pun orangnya yang berdoa dengan benar, akan mampu berjalan di atas air.

Kiplik memang bisa membayangkan, bagaimana kebesaran jiwa yang dicapai seseorang setelah mampu membaca doa secara benar, akan membebaskan tubuh seseorang dari keterikatan duniawi, dan salah satu perwujudannya adalah bisa berjalan di atas air.
Namun, ia juga sangat sadar sesadar-sadarnya, pembayangan yang bagaimanapun, betapapun masuk akalnya, tidaklah harus berarti akan terwujudkan sebagai kenyataan, dalam pengertian dapat disaksikan dengan mata kepala sendiri.

”Dongeng itu hanyalah perlambang,” pikirnya, ”untuk menegaskan kebebasan jiwa yang akan didapatkan siapa pun yang berdoa dengan benar.”

Justru karena itu, semenjak Kiplik memperdalam ilmu berdoa, kepada siapa pun yang ditemuinya, ia selalu menekankan pentingnya berdoa dengan benar. Adapun yang dimaksudnya berdoa dengan benar bukanlah sekadar kata-katanya tidak keliru, gerakannya tepat, dan waktunya terukur, selain tentu saja perhatiannya terpusat, melainkan juga dengan kepercayaan yang mendalam dan tak tergoyahkan betapa sedang melakukan sesuatu yang benar, sangat benar, bagaikan tiada lagi yang akan lebih benar.

Kebahagiaan yang telah didapatkannya membuat Kiplik merasa mendapatkan suatu kekayaan tak ternilai, dan karena itulah kemudian ia pun selalu ingin membaginya. Setiap kali ia berhasil membagikan kekayaan itu, kebahagiaannya bertambah, sehingga semakin seringlah Kiplik menemui banyak orang dan mengajarinya cara berdoa yang benar.
Ternyata tidak sedikit pula orang percaya dan merasakan kebenaran pendapat Kiplik, bahwa dengan berdoa secara benar, bukan hanya karena cara-caranya, tetapi juga karena tahap kejiwaan yang dapat dicapai dengan itu, siapa pun akan mendapatkan ketenangan dan kemantapan yang lebih memungkinkan untuk mencapai kebahagiaan.

Demikianlah akhirnya Kiplik pun dikenal sebagai Guru Kiplik. Mereka yang telah mengalami bagaimana kebahagiaan itu dapat dicapai dengan berdoa secara benar, merasa sangat berterima kasih dan banyak di antaranya ingin mengikuti ke mana pun Kiplik pergi.

”Izinkan kami mengikutimu Guru, izinkanlah kami mengabdi kepadamu, agar kami dapat semakin mendalami dan menghayati bagaimana caranya berdoa secara benar,” kata mereka.

Namun, Guru Kiplik selalu menolaknya.

”Tidak ada lagi yang bisa daku ajarkan, selain mencapai kebahagiaan,” katanya, "dan apalah yang bisa lebih tinggi dan lebih dalam lagi selain dari mencapai kebahagiaan ?”

Guru Kiplik bukan semacam manusia yang menganggap dirinya seorang nabi, yang begitu yakin bisa membawa pengikutnya masuk surga. Ia hanya seperti seseorang yang ingin membagikan kekayaan batinnya, dan akan merasa bahagia jika orang lain menjadi berbahagia karenanya.

Demikianlah Guru Kiplik semakin percaya, bahwa berdoa dengan cara yang benar adalah jalan mencapai kebahagiaan. Dari satu tempat ke tempat lain Guru Kiplik pun mengembara untuk menyampaikan pendapatnya tersebut sambil mengajarkan cara berdoa yang benar. Dari kampung ke kampung, dari kota ke kota, dari lembah ke gunung, dari sungai ke laut, sampai ke negeri-negeri yang jauh, dan di setiap tempat setiap orang bersyukur betapa Guru Kiplik pernah lewat dan memperkenalkan cara berdoa yang benar.
Sementara itu, kadang-kadang Guru Kiplik terpikir juga akan gagasan itu, bahwa mereka yang berdoa dengan benar akan bisa berjalan di atas air.

”Ah, itu hanya takhayul,” katanya kepada diri sendiri mengusir gagasan itu.
 _______________________________________________

Suatu ketika dalam perjalanannya tibalah Guru Kiplik di tepi sebuah danau. Begitu luasnya danau itu sehingga di tengahnya terdapatlah sebuah pulau. Ia telah mendengar bahwa di pulau tersebut terdapat orang-orang yang belum pernah meninggalkan pulau itu sama sekali. Guru Kiplik membayangkan, orang-orang itu tentunya kemungkinan besar belum mengetahui cara berdoa yang benar, karena tentunya siapa yang mengajarkannya? Danau itu memang begitu luas, sangat luas, bagaikan tiada lagi yang bisa lebih luas, seperti lautan saja layaknya, sehingga Guru Kiplik pun hanya bisa geleng-geleng kepala.
”Danau seluas lautan,” pikirnya, ”apalagi yang masih bisa kukatakan?”

Maka disewanya sebuah perahu layar bersama awaknya agar bisa mencapai pulau itu, yang konon terletak tepat di tengah danau, benar-benar tepat di tengah, sehingga jika pelayaran itu salah memperkirakan arah, pulau itu tidak akan bisa ditemukan, karena kedudukannya hanyalah bagaikan noktah di danau seluas lautan.
Tiadalah usah diceritakan betapa lama dan susah payah perjalanan yang ditempuh Guru Kiplik. Namun, akhirnya ia pun sampai juga ke pulau tersebut. Ternyatalah bahwa pulau sebesar noktah itu subur makmur begitu rupa, sehingga penghuninya tiada perlu berlayar ke mana pun jua agar dapat hidup. Bahkan, para penghuninya itu juga tidak ingin pergi ke mana pun meski sekadar hanya untuk melihat dunia. Tidak terdapat satu perahu pun di pulau itu.

”Jangan-jangan mereka pun mengira, bahwa dunia hanyalah sebatas pulau sebesar noktah di tengah danau seluas lautan ini,” pikir Guru Kiplik.

Namun, alangkah terharunya Guru Kiplik setelah diketahuinya bahwa meskipun terpencil dan terasing, sembilan orang penduduk pulau sebesar noktah itu di samping bekerja juga tidak putus-putusnya berdoa!
”Tetapi sayang,” pikir Guru Kiplik, ”mereka berdoa dengan cara yang salah.”

Maka dengan penuh pengabdian dan perasaan kasih sayang tiada terkira, Guru Kiplik pun mengajarkan kepada mereka cara berdoa yang benar.
Setelah beberapa saat lamanya, Guru Kiplik menyadari betapa susahnya mengubah cara berdoa mereka yang salah itu.

Dengan segala kesalahan gerak maupun ucapan dalam cara berdoa yang salah tersebut, demikian pendapat Guru Kiplik, mereka justru seperti berdoa untuk memohon kutukan bagi diri mereka sendiri!

”Kasihan sekali jika mereka menjadi terkutuk karena cara berdoa yang salah,” pikir Guru Kiplik.

Sebenarnya cara berdoa yang diajarkan Guru Kiplik sederhana sekali, bahkan sebetulnya setiap kali mereka pun berhasil menirunya, tetapi ketika kemudian mereka berdoa tanpa tuntunan Guru Kiplik, selalu saja langsung salah lagi.

”Jangan-jangan setan sendirilah yang selalu menyesatkan mereka dengan cara berdoa yang salah itu,” pikir Guru Kiplik, lagi.

Guru Kiplik hampir-hampir saja merasa putus asa. Namun, setelah melalui masa kesabaran yang luar biasa, akhirnya sembilan orang itu berhasil juga berdoa dengan cara yang benar.
Saat itulah Guru Kiplik merasa sudah tiba waktunya untuk pamit dan melanjutkan perjalanannya. Di atas perahu layarnya Guru Kiplik merasa bersyukur telah berhasil mengajarkan cara berdoa yang benar.

”Syukurlah mereka terhindar dari kutukan yang tidak dengan sengaja mereka undang,” katanya kepada para awak perahu.

Pada saat waktu untuk berdoa tiba, Guru Kiplik pun berdoa di atas perahu dengan cara yang benar.
Baru saja selesai berdoa, salah satu dari awak perahunya berteriak.

”Guru! Lihat!”

Guru Kiplik pun menoleh ke arah yang ditunjuknya. Alangkah terkejutnya Guru Kiplik melihat sembilan orang penghuni pulau tampak datang berlari-lari di atas air!

Guru Kiplik terpana, matanya terkejap-kejap dan mulutnya menganga. Mungkinkah sembilan penghuni pulau terpencil, yang baru saja diajarinya cara berdoa yang benar itu, telah begitu benar doanya, begitu benar dan sangat benar bagaikan tiada lagi yang bisa lebih benar, sehingga mampu bukan hanya berjalan, tetapi bahkan berlari-lari di atas air?
Sembilan orang penghuni pulau terpencil itu berlari cepat sekali di atas air, mendekati perahu sambil berteriak-teriak.

”Guru! Guru! Tolonglah kembali Guru! Kami lupa lagi bagaimana cara berdoa yang benar!”.


(Seno Gumira Ajidarma)

Rabu, 16 April 2014

Cerita "Abu Nawas dan Ayam Panggang"

http://4.bp.blogspot.com/-lzs5wAEHMl8/Tjv8pYrx2bI/AAAAAAAAAGM/lXLva-6krjA/s1600/jadingemis-09-10-05f.jpg
Al kisah Abu Nawas dipanggil Sultan Harun al Rasyid. Sudah lama sultan dendam dengan Abu Nawas. Dia ingin membunuh Abu Nawas, tetapi tidak menemukan akal.

Suatu hari dia ingat, bahwa hobi Abu Nawas adalah makan ayam. "nah, ini dia..." Abu Nawas terus dipanggil, dengan disertai undangan kepada khalayak ramai, bahwa Abu Nawas dihukum mati karena kalah berteka-teki melawan sultan.

Pada hari yang ditentukan, Abu Nawas datang. Dia disodori ayam panggang. Air liurnya menetes keluar. Tetapi dia terkejut, melihat sultan dikelilingi algojo.

"Ada apa Sultan ? " tanya Abu Nawas kepada sultan.


"Abu Nawas, ayam panggang ini harus kau nikmati. Jika tidak, kau akan dihukum mati dengan tuduhan menghina sultan. Apapun yang kau kerjakan terhadap ayam itu, aku akan berbuat serupa terhadap kamu" kata sultan.

"Apa maksud sultan" tanya abu nawas penuh heran.

"Begini, jika kau makan leher, aku akan memotong lehermu. Jika kau maka dada, maka dadamu akan aku belah. Jika kau makan paha ayam itu, maka pahamu akan aku potong?" jawab Sultan.

Dengan penuh kebingungan, dalam hati Abu Nawas bergumam. "dimakan, aku mati. Tidak dimakan, aku mati juga"

Setelah beberapa saat merenung sembari memikirkan apa yang harus dilakukannya akhirnya, Abu Nawas mendapat dapat akal. Langsung saja seluruh tubuh ayam panggang itu dijilati, mulai dari kepala sampai ke liang dubur.

Setelah itu, Abu Nawas memelorotkan celananya sambil berkata "Sultan, saya siap menerima perlakuan yang sama dari Sultan". Sesaat itupula sultan terdiam, hadirin geger, tidak bisa membayangkan sultan akan menjilati seluruh tubuh abu nawas. 

Si Kabayan Dan Pak Ustadz

http://fc08.deviantart.net/fs70/i/2011/018/0/f/si_kabayan_by_blacklightzzz-d37h7h8.jpg
Si Kabayan seorang laki-laki yang beasal dari desa, telah lima tahun menuntut ilmu di negeri paman sam. Suatu hari… ia kembali ke desanya. Nyai Iteung (Istrinya) merasa heran dengan perubahan yang terjadi pada diri sang suami (Kabayan). Kabayan yang dulunya rajin shalat… kini ga pernah lagi terlihat pergi ke masjid “boro-boro ke masjid… shalat di rumahpun ga pernah”…Iteung penasaran dan menanyakan kepada sang suami kenapa dia menjadi berubah. “Kang Kabayan! Iteung mah ngerasa aneh sama akang!” Kata iteung heran

“Aneh kenapa atuh nyi!” Jawab kang Kabayan.
“Kenapa sekarang akang jarang shalat… jarang ngaji…. dan ga pernah pergi ke masjid!” tambah iteung.
“Sekarang saya punya keyakinan baru dari negeri paman sam sana iteung!” jawab Kabayan dengan nada tinggi.
“Astaghfirullah….! kenapa akang jadi begini?” Iteung sedih.
“Sudahlah Iteung… kamu bawa saja kiayi atau ustad paling hebat di kampung ini! dia pasti ga bisa jawab pertanyaan akang, dia pasti jadi pengikut akang” Kata Kabayan dengan sombong.

Iteung merasa khawatir… iapun bergegas memanggil ustad Asep, salah satu guru ngaji di kampung tetangga. Atas panggilan Iteung, datanglah sang ustad ke rumah si Kabayan.

“Anda siapa?” tanya kabayan.
“Saya ustad Asep, dari kampung sebelah”
“Benar kamu ustad? kalo benar kamu ustad… dan kamu percaya bahwa tuhan itu ada, kamu pasti bisa menjawab pertanyaan saya. Tetapi kalau tidak bisa… tinggalkan saja agamamu itu!” Kabayan menantang sang ustad…
“InsyaAllah… jika Allah mengijinkan saya akan menjawabnya.”
Kata ustad,
“Kamu jangan yakin dulu… di Amerika saja, waktu saya kuliah… Profesor paling pintar sekalipun tidak ada yang bisa menjawab” Hardik Kabayan dengan yakin.
“Kalau begitu… pertanyaan apa yang akan kang Kabayan tujukan pada saya?” Tanya ustad.
“Begini…

1. Kalau benar tuhan itu ada, tunjukan wujud tuhan kepada saya.
2. Kalau benar manusia mempunyai takdir, apa itu takdir dan tunjukan pula pada saya.
3. Setan itu kan diciptakan dari Api, lalu kenapa tuhan memasukan setan ke dalam neraka? bukankah neraka juga terbuat dari api? apakah setan akan merasa sakit dengan api? mengapa tuhan tidak berfikir sampai kesitu?”

“PLAK….” (itu gambaran saya tentang suara tamparan) tiba-tiba sang ustad menampar pipi Kabayan dengan keras.
“Aduh…. kenapa kamu menampar saya? kamu marah? kalau tidak bisa membuktikan jangan marah!” kata Kabayan

Sang ustad tersenyum. “Itu adalah jawaban dari ketiga pertanyaan akang”

Kabayan : “Kalau kalah jangan marah…”
Ustad : “Bagai mana rasa tamparan saya”
Kabayan : “Sakit!”
Ustad : “Akang percaya rasa sakit itu ada?”
Kabayan : “Saya percaya!”
Ustad : “Tunjukan wujud sakit itu pada saya”
Kabayan : “Saya tidak bisa menunjukan wujudnya”
Ustad : “Itulah jawaban pertanyan pertama anda. Sesungguhnya Tuhan itu ada namun manusia tidak akan mampu melihat wujudnya”
Ustad : “Apakah sebelum saya datang Akang berfikir akan merima tamparan dari saya hari ini?”
Kabayan : “Tidak!”
Ustad : “itulah yang dinamakan takdir…”
Ustad : “terbuat dari apa tangan saya?”
Kabayan : “Kulit…”
Ustad : “Terbuat dari apa pipi Akang?”
Kabayan : “Kulit juga.”
Ustad : “Bagaimana rasa tamparan saya?”
Kabayan : “sakit!”
Ustad : “Walaupun setan terbuat dari api dan neraka pun terbuat dari api… jika Tuhan berkehendak maka neraka merupakan tempat yang menyakitkan bagi setan”
Mendengar jawaban dari sang ustad… sikabayan terdiam.

Selasa, 15 April 2014

Puisi : Belajar Membaca (Sutardji Calzoum Bachri)

 photo sutardji.jpg
Kakiku Luka
Luka Kakiku
Kakikau Lukakah
Lukakah Kakikau

Kalau Kakikau Luka
Lukakukah Kakikau
Kakiku Luka
Lukakaukah Kakiku

Kalau Lukaku Lukakau
Kakiku Kakikaukah
Kakikaukah Kakiku
Kakiku Luka Kaku

Kalau Lukaku Lukakau
Lukakakukakiku Lukakakukakikaukah
Lukakakukakikaukah Lukakakukakiku

Senin, 14 April 2014

Puisi : Air Mata Bola Basket


Air Mata Bola Basket Dalam Kaset . . .
Air Mata Bola Basket Dalam . . .
Air Mata Bola Basket . . .
Air Mata Bola . . .
Air Mata . . .
Air . . .
A
I
R
M
A
T
A
Bola Basket Dalam Kaset

Karya : Ghani

Beri Aku Maaf, Teman

http://3.bp.blogspot.com/_vyzN7_u118g/TJmtunv1v8I/AAAAAAAAAC4/7wQiBS2VY1M/s1600/sahabat21.jpg
Berbagai cara sudah dilakukan Ano untuk meredakan kebekuan hati Udik. Namun belum membuahkan hasil. Udik masih tetap marah dan tak mau mengajaknya bicara. Ano heran setengah mati, udik bersikap seperti itu. Ano tak menyangka sama sekali apa yang dilakukan membuat sohib dekatnya tersinggung dan marah besar. Ano mengakui kesalahannya, tapi Udik belum membuka pintu maaf baginya.

Bagaikan perang kalah, perasaan Ano melihat kenyataan itu. Sedih, teramat tragis. Ia sangat terpukul ketika permintaan maafnya yang kesekian, sore kemarin, ditolak mentah-mentah.

“Aku belum bisa melupakan peristiwa itu. Suatu saat jika sudah lenyap dari benakku, aku akan menerima maafmu.” Itu yang diucapkan Udik ketika Ano jauh-jauh menemuinya.

Ano mencatat, empat kali ia minta maaf pada Udik. Empat kali pula ia harus kecewa, permintaan maafnya tidak direspons . Ano mengakuinya, dirinya memang salah. Karenanya, ia berupaya minta maaf pada Udik.
Terlintas  jelas di benak Ano bagaimana peristiwa itu terjadi. Secara tak sengaja ia biarkan Udik menunggu disambati Ano. Di mata Ano, Udik baik dan entengan. Sayang, peristiwa stasiun itu, membuat hubungan itu memburuk.

Permasalahannya sepele, Ano tak menemukan Udik ketika keretanya tiba di stasiun. Dicari sana-sini, batang hidung Udin tak Nampak. Dalam keadaan bingung muncullah wahyu, teman sekampusnya. Singkat cerita Ano pulang dengan Wahyu.

Siangnya udik datang ke tempat Ano. Berbagai makian ditumpahkan Udik. Udik menganggap Ano mempermainkan. Disuruh menjemput, tapi malah dibiarkan bingung. Ano menjelaskan bahwa dirinya sudah mencari Udik, tapi tak ada. Udik beralasan ia sedang ke kamar kecil dan malah menyalahkan Ano yang tidak menelponnya. Mengapa saat itu Ano tidak ngontak Udik, karena HP-nya low bath. Sebenarnya ia bisa telpon lewat wartel yang ada di situ.

Tapi karena panik, ingin cepat-cepat sampai di tempat kost, Ano tak melakukan itu. Dan kesalahan itulah membuat Udik berang. Betul-betul marah pada Ano.

Ano sudah minta pendapat teman-teman, langkah apa yang diambil. Sebenarnya bisa saja Ano cuek dengan kelakuan Udik itu. Tapi sebagai orang yang masih mempunyai hati nurani, Ano merasa perlu minta maaf.

“Masak salah dan bikin orang teraniaya diam saja. Sudah sepantasnya aku minta maaf.” Ujar Ano pada Sinta.

Sinta bisa mengerti yang diamui teman sekampus itu. Tapi ia merasa tak rela jika Ano dilecehkan oleh Udik seperti itu.

“Ngapain kamu minta maaf, sementara yang kamu mintai maaf ketus kayak gitu. Lupakan saja, Anggap sudah selesai saja,” saran Sinta.
“Wah tak segampang itu, Sin!”
“Kan sia-sia kalau tanggapan Udik terus seperti itu.”
“Justru itu aku harus bisa mendapat maaf darinya. Baru setelah itu lega.”
Udik sebenarnya sudah disadarkan teman-temannya. Apa yang dilakukan tidak baik. Namun Udik mengaku merasa masih sakit hati atas kejadian itu. Ia punya pendapat, sikap ngeyelnya itu untuk member pelajaran Ano.
“Tapi kasihan Ano kalau kamu seperti it uterus. Padahal dia benar-benar mendambakan maafmu,” ungkap Indro.
“Itu resiko dia. Berani berbuat, berani menanggung akibatnya!”
“Dia sangat menghormatimu, Kalau dia tidak menganggapmu, pasti tak akan minta maaf. Mestinya kamu tahu itu. Apa sih sulitnya member maaf?”

Udik terdiam. Lontaran Indro menusuk kedalam sanubari Udik. Sesuatu sedang dipikir cowok itu.
Gerimis mewarnai atmosfir malam itu. Ano malas keluar rumah. Ia masih dikamar sambil mendengarkan teriakan nyaring Chris Cornell, vokalis Audioslaves. Padalah lapar sudah meliliti perut.

Ano terperanjat ketika pintu diketuk. Lebih terkejut lagi saat Udik di hadapannya, begitu pintu dibuka. Berbagai perasaan berkecamuk di benak Ano. Apa yang akan dilakukan Udik terhadap dirinya ? Pikiran itu menyelusuri di sekujur darah Ano.

“Maaf kedatanganku mengejutkanmu. Ada hal penting yang perlu kuungkapkan padamu, Ano.”
“Eh, nggak apa-apa kok,” Jawab Ano kikuk.
“Aku hanya mau minta maaf padamu. Selama ini aku telah menyusahkan dirimu.”
“Lho, yang mestinya minta maaf kan aku.”
“Nggak. Aku telah menyia-nyiakan kebaikanmu. Aku sudah menolak maafmu selama ini. Padahal maafmu itu tulus. Aku sadar, apa yang kulakukan itu salah.”

Ano terdiam.

“Untung ini tidak berlarut-larut. Teman-teman menyadarkanku aku. Aku menyesali atas sikapku selama ini Ano. Minta maaf memang hal yang paling sulit diucapkan. Tapi aku harus melakukannya.” Tambah Udik.
“Jadi, kamu sudah memaafkanku, Dik ?”
“Tentu, kita temanan lagi.”
“Benarkah itu ?”

Udik mengangguk. Ano tersenyum memancarkan kegembiraan. Maaf yang ditunggu-tunggu, datang sudah. Tak ada kebahagiaan bagi Ano yang melebihi peristiwa malam itu.

Sosial Media