Senin, 15 Desember 2014

Legenda : Telaga Moyang Manis (Belitung)

http://satuislam.org/wp-content/uploads/2014/01/telaga-2.jpg
Hijau dedaunan tampak menatap ragu. Dahan pohon melambai-lambai lesu tertiup angin. Tanah terlihat retak dan kering. Sumber-sumber mata air sepi dari jamahan penduduk, karena airnya kering kerontang. Tanpa disangka dan diduga musim kemarau kali ini datang lebih awal dari biasanya. Tak hanya itu musim kemarau ini terjadi sangat panjang.  Alhasil air di sungai, rawa-rawa, atau sumur menjadi lebih cepat kering.
Seluruh penduduk di Pulau Belitung kesulitan mendapatkan air. Tak terkecuali dengan penduduk di Kelekak Pancor. Satu-satunya sumber air yang tidak pernah kering hanya ada di antara dua bukit yang jaraknya lebih kurang 13-14 km dari tempat itu. Tempat itu bernama Selangan Libot (selangan = antara ; libot = dua bukit).
Meskipun jaraknya cukup jauh dari Kelekak Pancor penduduk tetap berbondong-bondong berjalan kaki ke Selangan Libot untuk mengambil air. Penduduk silih berganti menuju mata air itu, dari pagi buta hingga malam hari untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
*************
“Aku haus, aku haus ingin minum tapi tidak ada air” Manis berkata disela-sela tangisannya sambil meraung-raung.
 Tangisan Manis yang cukup keras terdengar oleh saudaranya Tuk Pancor. Tuk Pancor yang tengah berada di ladang segera berlari ke rumah untuk mengetahui apa yang tengah terjadi. Ketika tiba di rumah alangkah terkejutnya Tuk Pancor karena melihat Manis, saudaranya yang paling kecil tengah menangis kehausan di halaman depan rumah mereka. Tuk Pancor lalu mendekati Manis dan berusaha menenangkannya.
“Sabar Manis, tunggu lah sebentar lagi Nek Pancor pulang dari Selangan Libot mengambil air” dengan penuh kasih sayang Tuk Pancor membujuk Manis seraya mengelus-elus kepalanya.
“ Di mana-mana tidak ada air, aku ingin minum” jawab manis sambil terus menangis.
Meskipun Tuk Pancor sudah berusaha keras menenangkan Manis, tapi dia menangis semakin menjadi-jadi. Tuk Pancor tidak tega melihat Manis yang terus menangis karena lelah dan kehausan. Seketika itu pula, Tuk Pancor mengambil tempat air dan  bergegas menuju Selangan Libot untuk mengambil air.
Musim kemarau memang selalu hadir dengan berbagai suka citanya. Ada yang merasa kesusahan saat musim kemarau tiba, karena kesulitan mencari air. Di sisi lain ada yang merasa agak nyaman saat beraktifitas di luar rumah tanpa takut kehujanan. Apalagi sebagian besar penduduk Kelekak Pancor bekerja di ladang.
Cuaca yang panas di siang hari saat musim kemarau, memang membuat banyak orang beraktifitas di luar rumah. Orang-orang dewasa pergi untuk berladang atau melakukan pekerjaan rumah lainnya, sementara anak-anak menjadi semakin girang bermain di luar rumah. Kebanyakan anak-anak berkumpul bersama teman-temannya lalu bermain bersama-sama. Hari itu pun Manis pergi bermain bersama teman-temannya sejak pagi hari. Mereka bermain sangat asyik hingga tak menyadari matahari perlahan mulai meninggi dan bersinar semakin terik. Ketika semakin lelah, Manis pun merasa kehausan. Dia lantas pulang ke rumah dan langsung menuju tempayan tempat menyimpan air. Karena tak menemukan setitik air pun, dia terus mencari ke seluruh penjuru rumah untuk melepas dahaganya. Malangnya, Manis tidak menemukan air di rumahnya. Akan tetapi Manis tak kehabisan akal, dia lalu menuju rumah tetangganya untuk meminta air. Hingga lelah mencari Manis tak kunjung menemukan air. Rasa lelah dan haus yang semakin menjadi-jadi membuatnya menangis meraung-raung.
Sepeninggalan Tuk Pancor yang pergi menuju Selangan Libot, Manis terus menangis dan meratap kehausan. Cuaca pun semakin panas karena hari semakin siang. Matahari telah mencapai ketinggian maksimal di singgasananya. Di tengah gumpalan awan-awan putih yang berarak matahari semakin ganas memuntahkan panasnya ke bumi. Manis terus menangis sambil menghentak-hentakan kakinya ke tanah. Semakin haus semakin bertambah keras pula hentakan kakinya ke tanah.
Sementara itu Tuk Pancor berjalan tergesa-gesa dan setengah berlari sambil membawa tempat air. Keringat bercucuran membasahi sekujur tubuhnya. Rasa lelah sudah pasti dirasakannya. Akan tetapi karena teringat Manis yang tengah kehausan menunggunya, semua kelelahannya seakan tak berarti apa-apa. Saat itu yang ada di benaknya hanyalah satu hal, yaitu sesegera mungkin tiba di Selangan Libot mengambil air untuk Manis dan kembali ke rumah. Di tengah perjalanan Tuk Pancor beberapa kali berpapasan dengan penduduk yang juga mengambil air dari Selangan Libot.
Di halaman depan rumah mereka, Manis terus menangis sembari menanti Tuk Pancor yang pergi mengambil air untuknya. Saat itu rasa hausnya sudah tak tertahankan lagi dan kian memuncak. Tanpa sadar dengan hentakan kakinya Manis telah mengerok tanah semakin dalam. Saat itu juga Manis meratap sambil tangannya menunjuk ke arah tanah tempat dia menghentakkan kakinya,
“apakah saya masih diberi kesempatan untuk hidup, maka keluarkanlah air dari tempat ini” . 
Dengan kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa, serta merta terjadilah keajaiban. Pada saat itu juga keluarlah air yang jernih dari tempat itu. Manis bersorak kegirangan dan minum sepuasnya.
Setelah tempat air yang dibawanya terisi penuh, Tuk Pancor segera bergegas kembali ke rumah. Dia sudah tidak sabar ingin menemui Manis dan memberikan air yang dibawanya.  Sepanjang perjalanan Tuk Pancor tersenyum membayangkan wajah Manis yang kegirangan karena akhirnya mendapatkan air. Segala rasa lelah sepanjang perjalanan seakan terbayar dengan hal itu. 
Air dari dalam tanah itu memancar semakin deras. Manis semakin kegirangan dan terus minum hingga hausnya tak terasa lagi. Dari kejauhan terlihat Tuk Pancor terengah-tengah karena berlari mengambil air untuk Manis. Dia tidak tega melihat saudaranya tersiksa kehausan, karena ketika ditinggalkannya tadi Manis sudah sangat letih. Namun ketika sudah dekat dengan rumahnya Tuk Pancor tidak lagi mendengar suara tangisan Manis. Saat semakin dekat dengan rumahnya, Tuk Pancor semakin terheran-heran karena Manis tidak lagi menangis. Manis terlihat segar bugar dan telah bermain dengan riangnya, tidak terpancar sedikitpun keletihan di wajahnya. Bahkan yang lebih mengherankan lagi ternyata Manis bermain dengan air.
Menyaksikan hal tersebut Tuk Pancor segera menghampiri Manis. Tuk Pancor segera menanyakan bagaimana cara Manis mendapatkan air serta berusaha melarang Manis bermain air karena saat itu air sulit di dapat.
“Manis bagaimana kamu bisa mendapatkan air? Bukankah tadi kau menangis karena kehausan? Lantas jangan kau buang-buang begitu saja air ini, karena saat ini kita semua tengah kesulitan untuk mendapatkan air”  Tuk Pancor bertanya dengan masih diliputi rasa heran.
“Air ini dari dalam tanah” jawab Manis dengan polos.
Manis semakin girang dan terus bermain dengan air itu. Sementara Tuk Pancor semakin bingung dan heran mendengar jawaban Manis. Maka dia pun kembali bertanya kepada Manis.
“Manis sayang, bisakah kau ceritakan bagaimana air ini bisa muncul dari dalam tanah?”
“Tadi sambil menangis aku menghentak-hentakkan kakiku ke tanah, semakin lama semakin keras kuhentakkan kakiku karena semakin lelah dan haus aku berdoa meminta air dari dalam sini”
Manis menjawab seraya menunjuk ke tanah yang saat ini memancarkan air.
Mendengar jawaban Manis, Tuk Pancor pun merasa lega bercampur heran. Semakin lama, sumber air itu semakin memancarkan air dengan deras.
Sejak saat itu penduduk di Kelekak Pancor tidak lagi kesulitan menempuh jarak jauh untuk mendapatkan air. Mereka merasa senang karena kebutuhan sehari-harinya terpenuhi.
Hingga saat ini sumur tersebut dikenal dengan nama Telaga Moyang Manis. Sumur itu merupakan tanah cekung bekas galian yang besar, garis tengahnya kira-kira dua meter dan dalamnya kira-kira enam puluh sentimeter. Letaknya tidak jauh dari Sungai Pancor atau sungai tempat Tuk Pancor mendarat untuk pertama kali di daerah itu.  

Jumat, 06 Juni 2014

Kutukan Kucing Hitam

http://cdn.klimg.com/kapanlagi.com/p/kucinghitam06.jpg
“Pa, nggak sarapan dulu?” Hana, istri Joon, bertanya saat melihat Joon sudah keluar.

“Nggak, aku udah telat. Bang Abi minta kita semua kumpul jam 7 pagi. Soalnya ada meeting!” Joon berkomentar seraya memakai sepatunya.

Hana hanya bisa manggut-manggut mendengar penjelasan Joon, toh dia juga tidak mengerti apa yang Joon katakan. Dia hanya bisa melihat suaminya itu seperti orang terburu-buru. Tidak seperti biasanya.

Tanpa memanasi motor terlebih dulu, Joon langsung ngacir begitu mesin motornya menyala. Dia langsung ngebut walau masih berada di dalam gang rumahnya. Akibatnya, begitu seekor kucing hitam meloncat turun dari atas pohon, tepat di depan track jalan Joon, Joon terkejut dan langsung mengerem motornya. Sayangnya, rem yang diinjak Joon telat menghentikan laju motornya. Kucing hitam itu sudah terlindas, dan lebih parah lagi sudah hilang nyawa.


“Aduh, sial!” pekik Joon, demi melihat kucing hitam yang isi perutnya sudah terburai ke mana-mana. Bau amis mulai menguar-nguar ke udara.

Joon terdiam meragu. Di benaknya muncul dua pilihan, menguburkan bangkai kucing atau meneruskan perjalanan menuju kantor. Mau tak mau, akhirnya, Joon memilih opsi kedua. Joon kasihan dengan kucing itu, yang sudah mati mengenaskan. Karena itu, Joon merasa memiliki tanggung jawab untuk mengubur bangkai kucing itu sendiri, sehingga pasti membuat dirinya telat sampai ke kantor. Dia berinisiatif menelepon Bang Abi dan mengatakan dengan sejujur-jujurnya apa yang tengah menimpanya.

“Halo, Bang,” tukas Joon begitu hapenya telah terkoneksi dengan hape Bang Abi.

“Ya, gimana Joon?” sahut Bosnya.

“Bang, sorry nih, kayaknya gue bakal telat ngantor.”

“Kenapa emangnya?”

“Gue barusan ngelindes kucing. Mau gue urusin dulu.”

“Emang ngelindes kucing dimana lo?”

“Di gang keluar rumah gue, Bos.”

“Oh yaudah, lo urusin dulu itu kucing, nanti kalo udah selesai secepatnya lo kemari, okay?”

“Okay, Bos.”

***

Sesampainya di kantor, Joon memang telat. Meeting telah selesai. Dia cuma bisa mengabsen dirinya dan melanjutkan jalan ke toko. Sewaktu hendak keluar dari pintu, Joon bertemu dengan Mbak Indri, karyawan paling senior di bagian sales. Mbak Indri menanyakan apa yang telah terjadi secara detail pada Joon karena tadi sewaktu meeting Bang Abi—Bos mereka berdua—mengatakan jika Joon telah menabrak seekor kucing waktu berangkat. Makanya, dia akan telat ke kantor karena mengurusnya terlebih dulu.

Mbak Indri pun bertanya, “Terus apa yang lo lakuin sama tuh kucing?”

“Gue kuburinlah, makanya gue telat.”

“Bagus, lo udah ngelakuin hal yang bener,” komentar Mbak Indri, “Eh tapi, lo nguburinnya pake baju yang lo pake pas nabrak kan, Joon?”

“Nggak tuh. Gue nguburinnya pake kain bekas.”

“Duh,” Mbak Indri menepuk jidatnya, “Kenapa nggak pake salah satu pakaian yang lo pake pas nabrak?”

“Gile aja lo, baju baru dibeliin bini buat ngubur kucing!”

“Bukan gitu masalahnya, Joon. Menurut mitos, kalo ada orang yang nabrak kucing sampai mati, emang harus mengubur bangkai kucing itu secara layak. Dan dibungkus dengan kain atau pakaian yang dipakai orang itu pas nabrak si kucing. Kalo nggak, bisa-bisa yang nabrak dapat musibah.”

“Ah, lo, Mbak, masih aja percaya mitos-mitosan kayak gitu. Gue nguburin juga karena kasihan aja ngelihat kucing itu,” Joon menimpali perkataan Mbak Indri.

“Ya, gue cuma ngasih tauk lo kalau adatnya emang biasa begitu. Percaya nggak percaya sih.”

Joon mengedikkan bahu. Tampaknya dia memilih tak mempercayai mitos itu. ‘Bagaimana bisa arwah kucing mati menuntut balas?’ gerutunya dalam hati. ‘Aneh-aneh aja, urusan hidup dan mati kan sepenuhnya milik Tuhan. Lagian, hare gene masih percaya sama mitos, ck… katrok!’

Keduanya kemudian berpisah untuk pergi ke toko masing-masing. Joon memasukkan kunci motor dan setelah menyala, dia langsung bablas keliling ke toko langganannya.

Baru jalan sekitar 5 menit, Joon merasakan hape yang diletakkan di saku celana jeansnya bergetar-getar—tanda ada seseorang yang menghubunginya. Dia menepikan motornya untuk mengangkat telepon. Sebelum mengangkat, Joon sempat melihat layar hapenya sekilas. Di situ tertera nama istrinya, Hana.

“Halo, Ma.” Dari seberang telepon, terdengar suara Hana menangis sesenggukan. “Maaa… ada apa?” tanya Joon kebingungan.

“Pa, huuhuu huuhuu… Bapak nggak ada.”

“Nggak ada gimana?” Joon makin penasaran. Karena, tidak ada kabar yang mengatakan jika Bapak mertuanya itu sakit keras sebelumnya.

“Huuhuu… Bapak meninggal tadi.”

“Apa?!” Deg. Degub jantung Joon serasa berhenti sejenak mendengar pernyataan istrinya. “Inalillahi, kapan?”

“Belum lama. Katanya ditabrak motor gara-gara mau nyelamatin kucing.”

Joon mengernyit, ‘Kucing?’ Pikirannya segera melintas pada kejadian tadi pagi sewaktu dia berangkat ke kantor dan omongan Mbak Indri barusan sebelum dia jalan ke toko. ‘Kutukan kucing hitam?’

“Paaa…” Panggilan Hana memecah lamunan Joon.

“Ya?”

“Yaudah, cepet pulang. Kita ke rumah Bapak.”

“Ya, ya. Papa langsung pulang. Nih mau izin dulu sama kantor. Kamu tunggu sebentar ya?”

Joon segera mengurungkan niatnya untuk pergi ke toko dan menghubungi kantor untuk minta izin. Kemudian, dia mengarahkan laju motornya, pulang.

Selasa, 20 Mei 2014

Balada Cinta Ferdi Dan Firda

http://tipsmenjagakeharmonisankeluarga.files.wordpress.com/2012/06/gambar-kartun-romantis-12.jpg
Di ketinggian kamar di lantai delapan hotel berbintang lima, Firda menyibak vitrage, memandang ke luar jendela kaca yang sebagian permukaan luarnya berembun. Nampak di bawah sana lidah-lidah air laut menghantam garis pantai, berdebur-debur keras, tapi suaranya tak mampu menyusup ke dalam kamar, hingga kesunyian suite room ini sama sekali tak terusik. Sampai suatu saat terdengar suara seorang pria bertanya dengan nada lembut.

Nggak suka ya, menginap di sini?”
Firda menoleh sesaat, tersenyum tipis dan kembali melihat ke luar. ”Suka juga,” jawabnya datar.
”Suasana di sini hampir sama dengan yang di pantai Kuta.”
”Ya.”
”Bedanya waktu itu kamu enjoy sekali….”
Firda terdiam sesaat. Ia merasa bahwa Ferdi telah membaca suasana hatinya secara tepat. Sementara Ferdi sendiri lalu bangkit dari tempat tidur, mengencangkan tali kimono dan berjalan menghampiri Firda. Memeluknya dari belakang. Di luar penglihatan Ferdi, Firda memejamkan mata dan menghela napas panjang. Dan Ferdi ternyata merasakannya. ”Ada apa, Firda?”
Firda tidak segera menjawab. ”… Kenapa kamu mengajak aku ke sini?”
”Kamu sendiri pernah bilang bosan terus-terusan ke motel murahan.”
”Tapi kata orang hotel, kamar ini biasa disewa pasangan pengantin baru untuk berbulan madu.”
”So what ?”
”… Bukan berarti kamu mau mengajak aku berbulan madu, kan?”
Ferdi tersenyum lebar. ”Setiap ketemu kita berbulan madu.”
”Aku serius.”
Senyum Ferdi memudar. Perasaannya lembut berdesir. Dan dalam pikirannya pun muncul berbagai dugaan dan kecurigaan. ”Kamu bosan ya, kita begini-begini aja ?”
Firda menggeleng.
”Jadi kenapa…?”
”… Bulan depan aku mau nikah.”

Tangan Ferdi perlahan merenggang, melepaskan pelukan pada pinggang Firda. Dan Firda tak berusaha mencegahnya. Juga ketika Ferdi perlahan berjalan menjauh, duduk di sofa depan pesawat televisi yang menyiarkan CNN dengan volume suara rendah, nyaris tak terdengar. Rangkaian berita pengeboman kereta bawah tanah di London, berikut bursa saham yang terguncang, berlalu begitu saja tanpa perhatian. Di luar penglihatan Firda ia mengambil sebuah amplop coklat dari dalam laci, yang sesungguhnya akan diberikannya kepada Firda sebagai kejutan tengah malam. Hati-hati isi amplop itu dikeluarkannya sebagian. Dan nampaklah sebuah sertifikat rumah atas nama Firda.

”Sudah lama kamu pacaran sama calon suamimu?”
”Nggak pernah pacaran. Tapi sudah lama kenal. Tetangga dekat.”
”Kerja apa dia?”
”Guru SMP.”
”Oh…. Guru yang beruntung.”
”Kenapa beruntung?”
”Karena bisa mendapatkan istri secantik kamu.”
Firda terdiam. ”Mungkin aku yang beruntung masih ada laki-laki yang mau jadi suamiku,” bisiknya dalam hati.
”Setelah kamu kawin kita masih bisa ketemu lagi?”

Firda tak menjawab. Karena ia begitu takut memberikan jawaban yang salah.
Ferdi lalu hati-hati mengembalikan sertifikat tadi ke dalam laci. Ia tak berminat mengulangi pertanyaannya, sebab ia tak ingin memojokkan Firda untuk harus mengungkap sebuah janji. Sebuah janji yang pada gilirannya akan membelenggu diri Ferdi pula. Maka pertanyaan itu pun dibiarkannya mengambang dan tak pernah terjawab. Sampai Firda mengajak pulang meski kamar sudah telanjur di-booking untuk dua malam. Sampai keduanya berada di satu mobil dalam perjalanan pulang.

Sedan Mercy warna abu-abu metalik bermesin 3.600 cc berhenti di tempat gelap, beberapa belas meter menjelang sebuah halte bus yang sepi. Di dalam mobil ini Firda hendak membuka pintu, tapi tertahan oleh sentuhan tangan Ferdi berikut pertanyaan yang diucapkannya.
”Kali ini boleh aku antar kamu sampai rumah?”
”Jangan…!”
”Aku ingin berkenalan dengan orangtua kamu.”
”Kita sudah sepakat untuk membatasi hubungan hanya antara kita saja.”
”Meskipun ada kemungkinan setelah ini kita… akan lebih jarang bertemu?”
”Apalagi.”

Ferdi terdiam. Ia agak menyesal telah mengucap pertanyaan yang salah. Sementara itu Firda lalu mencium pipi Ferdi dan berbisik lembut. ”Maafin aku, ya….”

Ferdi merasa ada sesuatu yang tertahan di kerongkongannya. Sampai ia tak mampu berkata apa-apa dan membiarkan Firda keluar dari mobil. Baru setelah Firda menjauh dan nyaris tiba di ujung sebuah gang kecil, Ferdi seperti tersadar dari keterpukauannya, buru-buru membuka laci dashboard, mengambil amplop kecil berisi selembar cek dan lari ke luar mengejar Firda. ”Tunggu!”
Firda menahan langkah dan menoleh.

Ferdi menghampirinya dan menyerahkan amplop kecil itu kepada Firda. ”Tolong kamu terima. Kemarin aku sudah janji mau ngasih ini ke kamu.”
”Nggak usah…. Kontrak rumah sudah lunas sampai tahun depan.”
”Kalau begitu bisa kamu pakai buat apa saja. Cetak undangan, sewa gedung, biaya katering…. Semuanya pasti perlu biaya yang nggak sedikit.”
Firda terdiam. Dan tetap terdiam ketika Ferdi memasukkan amplop itu langsung ke saku belakang celana hipster-nya.
”Jangan segan-segan kontak aku kalau masih perlu bantuan.”
Firda menjawab dengan pelukan erat. Dan Ferdi menyambutnya sepenuh hati. Mungkin hanya Tuhan dan mereka berdua yang tahu berapa lama mereka berpelukan seperti itu. Sampai kemudian keduanya berpisah, saling melambaikan tangan, dan Firda berjalan lunglai meninggalkan Ferdi, berbelok memasuki gang, dan akhirnya lenyap selepas tikungan. Beberapa saat kemudian mobil yang dibawa Ferdi pun perlahan bergerak menjauh dan menjauh….

Malam itu suasana di rumah Firda tidak seperti biasanya. Beberapa sepatu dan sandal bertebaran di teras, sementara pintu ruang tamu masih terbuka meski jam sudah menunjuk pukul sebelas. Rupanya ada beberapa paman dan bibi Firda datang dari kampung bersama anak-anak mereka, ingin mengikuti acara lamaran keluarga calon suami Firda yang rencananya akan berlangsung lusa.

”Firda biasa pulang kerja jam berapa?” si paman bertanya.
”Minggu ini dia dapet giliran masuk sore, pulangnya antara jam dua belas jam satu,” jawab ibu Firda.
”Malam sekali, ya.”
”Namanya juga kerja di restoran. Restoran di hotel berbintang lagi, yang bukanya dua puluh empat jam.”
”Yang penting gajinya lumayan,” si bibi menimpali.
”Bukan lumayan lagi,” kata ibu Firda. ”Dia sudah mampu jadi pengganti ayahnya. Semua keperluan sehari-hari dia yang biayain. Termasuk kontrak rumah dan uang sekolah adik-adiknya.”
”Memang gajinya berapa?”
”Gajinya mah sekitar delapan ratus. Tapi uang lemburnya tinggi, katanya. Waktu baru dua bulan kerja saja saya lihat tabungannya sudah lima juta lebih. Jauh betul dengan ayahnya yang sampai pensiun nggak pernah bisa nabung.”
”Jangan-jangan dia sudah jadi manajer.”
”Ah, belum. Karyawati biasa. Tapi kelihatannya dia memang sedang dipersiapkan atasannya untuk naik pangkat buat pegang jabatan. Tiga bulan terakhir ini dia sering ikut macam-macam training. Manajemen, bahasa Inggris, komputer, kepribadian…. Kadang di Jakarta, tapi lebih seringnya di Bandung.”
”Berat juga ya, sampai harus ke Bandung segala.”
”Berat sekali juga enggak. Soalnya kalau training di Bandung pasti menginap barang semalam. Jadi masih ada waktu buat rekreasi, belanja-belanja, beli oleh-oleh buat yang di Jakarta. Bulan lalu malah di Bali sampai seminggu.”
”Semuanya dibiayai kantor?”
”Bukan cuma dibiayai, tapi juga dikasih uang saku!”
”Hebat sekali!!?”

”Makanya saya sendiri suka terharu, nggak mengira Firda sekarang sudah jadi tulang punggung keluarga. Saya cuma bisa bersyukur dan bersyukur pada Yang Mahakuasa, ’Ya, Alloh… terima kasih atas segala kemudahan yang sudah Kau berikan kepada kami…’.”
Pagi hari Ferdi membuka mata dan kecewa menemukan dirinya tergolek di ranjang di kamar rumahnya. Jam dinding menunjuk setengah tujuh, yang berarti sebentar lagi istrinya akan memanggilnya untuk sarapan. Ia pun bangkit hendak keluar kamar, tapi lalu tertahan oleh dering telepon yang terletak di meja lampu. ”Halo?”

”Bisa bicala sama eyang Feldianto?”
Ferdi tersenyum. ”Ini siapa, sih, pagi-pagi sudah nelpon pakai suara genit?”
”Aku Icha, cucunya eyang Feldi.”
Ferdi tertawa. ”Ada apa, sayang?”
”Ental siang jangan lupa, ya, dateng ke lumahku. Aku kan ulang tahun.”
”Oh, ya. Pasti. Eyang nggak mungkin lupa.”
”Dah, eyaaang.”
”Dadaah.” Ferdi menutup gagang telepon. Senyumnya seketika memudar. ”Hampir lupa…!” katanya dalam hati.
”Siapa yang nelpon?”
Ferdi kaget dan menoleh, melihat istrinya yang baru saja muncul di pintu kamar. ”Icha. Ngundang ke ulang tahunnya nanti siang.”
”Icha sendiri yang nelpon???”
”Iya.”
”Ya, ampun! Baru mau tiga tahun sudah pinter banget.”
”Anak sekarang….”
”Eh, Astrid sudah nemuin Papa?”
”Belum. Ada apa?”
Belum lagi ibunya menjawab, seorang gadis cantik berumur dua puluh lima tahun muncul dan langsung masuk ke kamar. ”Hai, Pa!”
Si ibu tersenyum penuh arti dan pergi meninggalkan ayah-anak ini. ”Minta sendiri gih sama Papa.”
Ferdi bertanya-tanya. ”Mau minta apa, sih?”
”Mmm…. kado perkawinan.”
”Kado kok minta. Tergantung papa dong, mau ngasih apa.”
”Soalnya gini, Pa. Mathias sudah pasti mau dikasih kado mobil sama orangtuanya. Maksudku, Papa jangan ngasih aku mobil juga.”
”Terus, kamu pengin dikasih kado apa?”
”Mmm… rumah.”
Ferdi tertegun. ”Rumah…?”
”Soalnya aku sama Mathias sudah sepakat setelah kawin nanti nggak mau tinggal di pondok mertua indah.”
Setelah berpikir beberapa saat, berangsur wajah Ferdi kembali cerah dan bahkan kemudian tertawa. ”Tenang aja. Sudah papa siapin.”
”Ah yang bener, Pa.”
”Kamu suka, kan, rumah di Bukit Kayangan?”
”Suka banget! Memang papa sudah beli???”
”Sudah.”

Astrid sesaat terkesima, lalu menghambur mendekati ayahnya dan mencium pipinya berkali-kali. 

”Thanks, Pa! Makasih banget!!!”
”Buat kamu, apa sih yang nggak papa kasih.”
”Tapi rumahnya sudah ada atau kita harus nunggu dibangun dulu?”
”Sudah ada. Tinggal masukin furniture sama ngurus balik nama.”
Astrid heran. ”Kok pakai balik nama segala…?”

Kata Kata Sedih dan Galau

http://4.bp.blogspot.com/-ot15PPRieUA/UKHSk4eHdNI/AAAAAAAABbQ/UH8nQTODsn0/s1600/lagi-galau-cinta-lebay.jpg

Hujan datang menyerbu.. dingin datang kepadaku..
aku sayang kepadamu.. tapi kamu ga sayang kepadaku..

Hanya dirimu yang bisa membuatku tenang, tanpa dirimu aku merasa hilang dan sepi, dan sepi.

Aku ingin menjadi mimpi indah dalam tidurmu. Aku ingin menjadi sesuatu yang mungkin bisa kau rindu. Karena langkah merapuh tanpa dirimu .

Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku meski Kau tak cinta kepadaku. Beri sedikit waktu biar cinta dtg karna tlh terbiasa . "

Terlalu sadis caramu menjadikan diriku pelampiasan cintamu agar dia kembali padamu tanpa perduli sakitnya aku

Jujur aku tak kuasa saat terakhir ku genggam tanganmu namun yang pasti terjadi kita mungkin tak bersama lagi.

Ada cerita tentang aku dan dia dan kita bersama saat dulu kala

Kupejamkan mata ini, Mencoba tuk melupakan, Segala kenangan indah tentang dirimu , Tentang mimpiku

Ada apa kiranya disana kok perasaan tidak enak,
Ya Allah... Lindungilah dia yang kusayangi...

Inginnya aku terus memantau keadaanmu
namun semua tak mungkin karena kujauh.
Disaat seperti inilah aku pengen buanget dekat dengannya.

Kucoba membina rasa saling percaya
meski batin ini rasanya tak karuan
Kucoba tidur dan pejamkan mata
Tapi melupakanmu itu tidak mungkin

Cintaku harus jujur...
bila di dekatmu hatiku senang
bila jauh hatiku gelisah...
inikah cinta yang sebenarnya?

Aku harus bertahan untuk menantimu
meski penantian ini begitu berat
kesabaran dalam iman telah menepis kegalauan hatiku

karna engkaulah satu-satunya untukku &bpastikan kita kan selalu bersama. karna dirimulah yg sanggup mengerti aku dalam susah ataupun senang

jika memang dirimulah tulang rusukku kau akan kembali pada tubuh ini. ku akan tua dan mati dalam pelukmu untukmu seluruh nafas ini.

ku tak mengerti cinta indahnya hanya di awal ku rasa mengapa kau benar dan aku selalu salah

Hanyalah dirimu, mampu membuatku jatuh Dan mencinta. Kau bukan hanya sekedar indah , kau tak akan terganti

Meski waktu datang Dan berakhir sampai kau tiada bertahan, semua takkan mampu mengubahnya, hanyalah kau yg Ada direlungku ..

Tuhan tolonglah sampaikan sejuta sayangku untuknya. Ku terus berjanji tak kan khianati pintanya ..

Ketika rindu terasa sesak dalam dada, membungkus sakit yang menyayat hati, bagai labirin cinta tanpa jalan keluar.

Kamu tau ga’ rasa sakit yang susah hilang itu apa? rasa sakit yang susah hilang tuh rasa sakit saat kamu bilang kita putus :(

Jangan pernah siasiakan orang yang menyayangimu. Terkadang kita harus meng egoiskan diri kita sendiri, dengarkan hati paling dalam ;)

Sakitnya tusukan 1000 jarum belum bisa ngalahin sakitnya saat kamu ngomong “kita putus ! karna gue udah gak ada rasa sama loe”

Ada ga’ ya obat kebal? Aku akan beli sebannyak-banyaknya buat nahan rasa sakit yang aku rasakan karena lama memendam perasaan ini ke kamu

Kalau sakit ragaku masih ada dokter yang bisa nyembuhin, tapi siapa yang bisa nyembuhin hatiku saat kulihat kau selingkuh denganya.

Bener ya lebih baik sakit gigi, daripada sakit hati, apalagi ketika kamu balikan sama mantanmu dan ninggalin aku.

Jalan-jalan ke Belanda beli topi, pulangnya mampir ke toko roti. Aku sakit ngeliat kamu kayak gini, move on ke lain hati :(

Selemah-lemahnya pacar adalah pacar yang hilang di malam mingguan.

Jika kini kita sudah tak bersama. Aku akan slalu tersenyum akan hadirmu. Tapi hati ini akan terluka kembali jika kau bersama yang lain :(

Jika waktu tak mampu lagi mengajariku melupakanmu, lalu dengan apa lagi Tuhan menguji kesetiaanku.


Kelak, bukan aku yang akan kamu rindukan, tapi hatiku, rumah ternyaman yang pernah dihuni oleh cintamu.

Baru kemaren kita jalan sama-sama, sekarang kamu sudah jalan sama orang lain :(

Aku tidak berharap untuk menjadi yang terpenting dihidupmu. Karena itu merupakan permintaan yang terbesar bagiku. Aku hanya berharap suatu saat nanti, jika kau melihat aku. Kau akan tersenyum dan berkata “Dialah orang yang selalu menyayangiku”.

Seandai’a kita masih pacaran. Mungkin aku adalah wanita paling bahagia di dunia ini.

Pernah ku sekali ingin berlari dan menghapus semua tentangmu dari hidupku. Tapi ku katakan juga untuk kesekian kali, aku berserah dan kuakui !! Aku tak bisa tanpamu. Aku ingin merajut bahagia walau semu adanya. Dan biarkan aku menjadi bahagia dengan caraku sendiri. Ini kelak akan jadi cerita, tertutup rapat. Hanya kamu dan aku CUKUP !!

Senin, 12 Mei 2014

Puisi : Hanya Dalam Puisi (Ajip Rosidi)

http://www.jakarta.go.id/web/system/jakarta2011/public/images/encyclopedia/a6f27a4d50d3fdc4dd51b0829e8cabb0.jpg
Dalam kereta api
Kubaca puisi Willy dan Mayakowsky
Namun kata-katamu kudengar
Mengatasi derak-derik deresi.

Kulempar pandang ke luar:
Sawah-sawah dan gunung-gunung
Lalu sajak-sajak tumbuh
Dari setiap bulir peluh
Para petani yang terbungkuk sejak pagi

Melalui hari-hari keras dan sunyi.
Kutahu kau pun tahu:
Hidup terumbang-ambing antara langit dan bumi
Adam terlempar dari surga
Lalu kian kemari
mencari Hawa.

Tidakkah telah menjadi takdir penyair
Mengetuk pintu demi pintu
Dan tak juga ditemuinya Ragi hati Yang tak mau
Menyerah pada situasi?

Dalam lembah menataplah wajahmu yang sabar.
Dari lembah mengulurlah tanganmu yang gemetar.
Dalam kereta api
Kubaca puisi turihan-turihan hati
Yang dengan jari-jari besi sang Waktu
Menentukan langkah-langkah Takdir:
Menjulur Ke ruang mimpi yang kuatur sia-sia.

Aku tahu.
Kau pun tahu.
Dalam puisi
Semuanya jelas dan pasti.

Puisi : Surat Dari Ibu (Asrul Sani)

http://3.bp.blogspot.com/_MR3pXN95nUg/Svga1pPK2-I/AAAAAAAAAHs/5uCYiqHha1U/s1600/Asrulsani.jpg
Pergi ke dunia luas, anakku sayang
Pergi ke hidup bebas !
Selama angin masih angin buritan
Dan matahari pagi menyinar daun-daunan
Dalam rimba dan padang hijau

Pergi ke laut lepas, anakku sayang
Pergi ke alam bebas !
Selama hari belum petang
Dan warna senja belum kemerah-merahan
Menutup Pintu waktu lampau

Jika bayang telah pudar
Dan elang laut pulang ke sarang
Angin bertiup ke benua

Tiang-tiang akan kering sendiri
Dan nahkoda sudah tau pedoman

Boleh engkau datang padaku

Kembali pulang, anakku sayang
Kembali ke balik malam
Jika kapalmu telah rapat bertepi
Kita akan bercerita
Tentang cinta dan hidupmu pagi hari

Sosial Media