Minggu, 04 Mei 2014

Walaupun Kau Sudah Tak Perawan

http://1.bp.blogspot.com/-5b9rlhiuXow/UZNgOlG90UI/AAAAAAAAAG0/RiGAsGwQP0w/s1600/peluk.jpg
Sudah lama sekali aku mengagumi Ayu, seorang gadis desa yang sangat cantik menawan, lenggak lenggok tubuhnya membuat mata tak mampu untuk berkedip. Ku pandangi dia saat sedang bersantai  menikmati angin desa di depan rumahnya. Ku hampiri dia walau diri ini memang gugup untuk mendekati dirinya.

“Assalamu’alaikum..”
“Wa’alaikumsallam, eh mas jaka., ayo masuk ke dalam mas.”
“Terima kasih, disini aja, sejuk udaranya.”
“Ada apa, mas?”
“Gak ada apa apa, Yu, Cuma pingin ngobrol saja.”, “Gimana kabarnya,?”
“Alhamdulillah baik, mas”

Kunikmati sore hari dengan mengobrol dengan ayu, di akhir perbincangan aku selalu menanyakan tentang cintanya padaku, tapi dia selalu tak menjawab, matanya berkaca kaca seperti ingin menangis. Akhirnya ku selalu urungkan niatku untuk itu.

Ku bertanya tentang diriku sendiri, aku selalu mengkoreksi diri, apa ada yang salah dengan diriku, aku memang benar tulus mencintainya, tapi dia selalu ingin tak menerimaku. Ku ingin mencari waktu yang pas untuk menyatakan cintaku sekali lagi padanya.

Pagi hari itu, ku sedang bekerja di sebuah pabrik kain, dekat di rumahku. Aku biasanya pulang waktu sore hari, ku lewati rumah ayu berharap dia sedang santai di depan rumahnya lagi. Tapi harapanku tak selalu jadi kenyataan. Dengan sedikit kecewa, ku pulang dan memikirkan kapan dia akan menerima cintaku.

Di sela tidurku, aku akhirnya berpikir dan sadar, mungkin dia malu denganku, karena dia tak pantas untuk dijadikan seorang kekasih. Dia sadar akan kejadian bulan lalu yang menimpanya, dia di perkosa oleh lelaki jahanam bernama Prapto, Prapto adalah kekasihnya dahulu, dibalik cintanya kepada ayu ia menaruh nafsu, dan berniat memperkosa dia, tapi ayu tak menyadarinya. Saat itu dirumah ayu tidak ada siapa siapa, itulah kesempatan prapto untuk menjalankan niatnya. Atas semua kejadian itu, mereka ketahuan oleh warga dan dituduh warga karena mereka telah melakukan perzinahan, aku berusaha meyakinkan warga dan berpura pura hampir melihat kejadian itu, bahwa ayu telah diperkosa, akhirnya warga mempercayai omonganku, dan hanya mengusir prapto dari kampungnya, sejak kejadian itu ayu sering melamun, tapi akhir akhir ini dia sedikit ceria seperti biasanya.

Hari minggu ini, aku mencoba sekali lagi untuk menyatakan cintanku. Ku hampiri rumahnya. Untung dia ada di rumah sedang menyapu halaman, seperti biasa dia sangat cantik sekali.
“Ayu, aku kali ini ingin ngomong serius sama kamu,”
“Ada apa mas,”
“Boleh kita ngomong di dalam saja“
“mari mas”

Ku ikuti dia ke dalam rumahnya, dengan perasaan gugup dan takut ia menolaknya lagi.tapi aku memberanikan diri, ini demi masa depan ayu dan diriku.
“Ayu, mas ingin kamu jujur pada aku, apa kamu mencintaku.”
“Aku tidak bisa menjawab mas,”
“Tapi, ayu. Aku serius padamu, aku akan menerimu apa adanya, aku ingin membahagiakan kamu.”
“Tapi, aku tak pantas untukmu mas, kamu lelaki baik baik, sedangkan aku hanya perempuan yang tidak bisa menjaga martabat seorang perempuan.”
“Ayu, aku tidak peduli tentang kejadian lalu, tapi mari kita menatap masa depan bersama, aku ingin menjalani masa hidupku padamu.”

Aku meyakinkan padanya sekuat tenaga agar dia mempecayaiku, akan keseriusanku padanya. Ku coba dia untuk menerima cintaku, walaupun dia selalu menolaku, sesekali air matanya berlinang, suaranya menjadi lirih.

“Apa mas, benar ingin menjadi suamiku.”
“Iya, Ayu, aku ikhlas ridho lillahi ta’ala”
“Walaupun aku sudah. . .”
“Sudahlah ayu, itu semua tidak penting, lebih penting masa depanmu. Aku berjanji akan menjagamu dan mencintaimu selamanya.”
“Terim kasih mas,”

Akhirnya dia menerimaku, ku peluk dia. Pelukannya erat sekali, seakan ia terharu, air matanya berlinang tak terbendung seakan ia berterima kasih sekali padaku. Ku berjanji pada diriku sendiri, bahwa aku akan mengembalikan kembali martabat dirimu sebagai perempuan.

0 komentar:

Posting Komentar

Sosial Media